Merenung Air Mata Angelina Sondakh

Kons beo3

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan. Ia hanya menguji kekuatan akarnya” (anonym)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kini Aku Pulang

Semula ia tampak percaya diri. Hari itu, Angelina Patricia Pinkan Sondakh, hadir di Kompas TV, di Kamis, 31 Maret 2022. Di situ telah hadir Rosiana Silalahi (Rosi), Pemimpin redaksi Kompas TV. Terlihat, tak ada senyum ceriah Rosi demi menyambut Angie. Terkesan serius seperti dalam suatu kegentingan atmosfer. Rosi pasti sadar. Angie bukan tamu biasa baginya. Yakinlah! Di acara itu, sekian banyak pasang mata tertuju pada Kompas TV.

Rosi teduh menyapa Angelina. Ucapan selamat datang sedikitnya jadi awal yang segar.  Walau semula berjuang untuk percaya diri, Angie toh gugur dalam air mata berkaca-kaca. Perlahan-lahan ia terlihat rapuh, namun tetap mengalir dalam ‘kata tersendat dan air mata di pipi.’ Itukah sebuah tangisan ceriah untuk sebuah kemerdekaan batin yang kembali diraih Angie? Entahlah.

Ke Manakah Wajah Harus Kusembunyikan?

Di interview itu, termakna jelas bahwa betapa alam batin yang sumpek sungguh terpahat dalam kata. Dan juga mengalir dalam air mata. Kata dan air mata memang harus mengalir. Angie tak kuasa menahan segala luka dan ‘bencana hidup’ yang telah dialami. Semuanya harus ia tumpahkan. Dia tak peduli lagi pada telinga yang enggan mempercayainya. Sebab, Angie hanya ingin pulang. Kembali memulai sebuah irama hidup baru dari dirinya sendiri bersama anaknya terkasih.

Kisah-kisah pahit dan tersulit adalah sebuah pelajaran kehidupan. Itulah yang diyakini Angie. Dia tak mengutuk suasana penjara yang telah dialami. Walau, semula, ia sebenarnya masih berani bertarung. Semuanya demi sebuah jawaban pasti atas pertanyaan: ‘Mengapa dia yang mesti ke tempat itu?’ Tak sanggup Angelina menerima nasib bahwa ia mesti menjadi  ‘salvatrix’ (penyelamat) bagai Yesus demi yang lain. Ya, yang nama-namanya masih rapih tersimpan di lemari hatinya.

Tetapi, air mata Angie di saat itu, bukanlah alarm kemarahan untuk semburan api balas dendam. Tidak! Ia hanya menyesali dirinya yang rapuh. Yang tak kokoh digilas perintah  di luar nalar dan hati nurani dari petinggi partai. Korupsi memang bukan jalur tunggal. Tak hanya sebatas ‘jalan tol.’ Sebab korupsi itu sudah massif alurnya. Sudah  menyerempet dan membias hingga ke lorong dan ‘jalan-jalan tikus.’ Bahkan locus yang menjadi centrum bicara tentang nasib dan kepentingan rakyat (DPR), sudah jadi ladang subur untuk praktek korupsi. Tentu di eranya…

Seberkas Cahaya Terang Telah Bersinar

Tak mau masuk dalam satu rasionalisasi, Angie tetap berharap pada ‘alam dan Yang Kuasa’ demi petunjuk menuju kebenaran! Mungkinkah di setiap lahan kehidupan manusia kebenaran itu sungguh terpasung? Dunia politik telah jadi piagam suram betapa gulitanya jalan asa akan kebenaran. Dan bahkan di penjara sekali pun tak nampak efek jerah untuk hentikan geliat kudeta akan kebenaran.

Tangis dan air mata Angie kini sungguh adalah sebuah pembebasan. Dalam segelap dan sepekat apa pun kisah yang telah terlewati, ‘blessing in disguise’ tampakan kemenangannya. Yang berlalu biarlah berlalu. Namun ia memberikan motivasi hidup yang berarti. Rahmat dan berkat kehidupan itu selalu hadir dan menyapa dalam situasi kabut penuh duka. Itulah kayros yang mesti disyukuri.

Angie telah maklum dari ujian kehidupan. Ternyata yang lahiriah, yang dikejar, yang diimpikan, yang tertatap penuh pesona, serta aura takhta dan kuasa adalah kepalsuan fatamorgana kehidupan. Di situlah Angie dipaksa untuk bermenung sungguh! Betapa bersahabatnya alam Kalimantan dengan orang utannya. Yang kosmik-natural, yang asli itu sungguh inspiratif. Tanpa rekayasa. Tanpa pura-pura. Karena semuanya seperti apa adanya.

Semuanya Mesti Kembali Ditata

Tangis dan air mata Angelina Sondakh, peraih kontes kecantikan nasional, Puteri Indonesia 2001, dan pernah jadi selebriti Partai Demokrat hingga ke Senayan itu, menguraikan semuanya. Entah dalam kata, air mata, mimik wajah, tatapan mata, ya bahkan dalam “kata yang tertahan (belum) terucapkan.”

Tangis dan air mata Angie bukanlah lagi sebuah isyarat baperan sentimental penuh cengeng. Bila ditafsir lanjut, sebliknya, itulah sebuah titik start baru kehidupan yang harus direntas. Alam penjara, makan tempe di lantai seadanya, atau bersihkan sampah mesti dilewati. Dan di baliknya semuanya?

Ibu, Inilah Anakmu….

Naluri keibuan nyatanya terlalu tangguh. Sang anak semata wayang, Keanu Massaid, adalah ‘harta terindah’ bagi Angie. Putra yang tak bersalah itu harus menanggung duka ditinggal  pisah darinya sepuluh tahun itu. Angie tak peduli lagi pada Sabang sampai Merauke yang telah enggan menerimanya. Yang menilai tangisannya sebagai aliran air mata buaya politik. Tak penting! Angie pun tak bermaksud untuk benarkan diri di hadapan seluruh Nusantara.

Angie adalah ibu yang meratapi takdirnya yang berimbas pada sang putera. Mungkinkah Angie lalaikan  amanah almarhum suaminya, Adji Massaid, agar tak lupa akan anak (anak) mereka? Terdengar menderang di Kompas TV yang di-Youtube-kan berdurasi 1 jam, 01 menit, 11 menit itu. Angie tangisi kisah perjuangannya  sebagai seorang ibu untuk sekedar berjumpa anaknya. Dibayangkan pula kepenatan yang mendera putranya untuk hanya berjumpa dengan sang Ibu di waktu 30 menit di penjara.

Angie pada titiknya sadar. Baginya di dunia ini hanya ada dua warna: Hitam dan putih. Entahkah yang lain sebatas warna-wani penuh muslihat, dan ramai kamuflasenya? Angie tidak mempersalahkan siapa-siapa. Andaikan sempat bertemu dengan SBY, ia hanya ingin meminta maaf. Ia ingin mendoakan yang terbaik bagi SBY sekeluarga. Angie tetap pada dirinya yang rapuh dan bersalah. Dan anak terkasih telah memanggilnya pulang pada alam kehidupan yang seharusnya.

Akhirnya…

Angelina Sondakh, kelahiran New South Wales-Australia, 28 Desember 1977, kini telah pulang. Ia telah dihadirkan kembali ke ruang publik. Alam ‘penghakiman’ telah dilewati. Rosi Silalahi menemukan dan menempatkannya kembali untuk ditatap semesta nusantara di Kompas TV. Tidak untuk diadili. Dan juga untuk dihakimi. Hanya untuk sekedar bercerita dengan tentang ‘lautan dan langit biru’ yang tak selamanya teduh.

Rosi tak ingin agar Angie harus terkubur dalam rongsokan Hambalang. Yang tetap menggurita  penuh tanya. Tanpa jawaban berujung pasti.  Angie mesti ditempatkan kembali pada panggung yang seharusnya. Bagi Rosi, Angie tak pernah boleh ‘mati dalam hidup.’ Tetapi, yakinlah pada 31 Maret 2022 itu, dua perempuan itu, Rosi dan Angie, sedikit tidaknya menyentak atensi publik tanah air.

Dan, apakah air mata di pipi Angelina Sondakh itu akan diibaratkan bagai rintik-rintik hujan dan kabut yang membuat ‘langit dan samudra raya terlihat pudar dan  semakin tak biru ceriah’?

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang……

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniawan Katolik, tinggal di Roma

Pos terkait