Oleh Tony Kleden
Jujur, judul di atas bukan puja puji. Tidak juga dengan intensi politik. Apalagi ingin menuai keuntungan elektoral. Dengan demikian, judul ini bukan asal bunyi.
Bahwa kami sama-sama di Partai Golkar, itu kebetulan semata. Kebetulan di lintasan sejarah. Sama-sama berhasrat mendermakan diri dan membaktikan kemampuan untuk kemaslahatan banyak orang melalui jalur politik.
Nama Melchias Markus Mekeng sudah familiar di telinga sejak saya masih di dapur Harian Umum Pos Kupang (1996-2012). Familiar di telinga tidak terutama karena Mekeng sering jadi sumber dan bahan berita.
Sebaliknya nama ini sangat sering disebut-sebut warga Flores Timur (Flotim) setiap kali ‘bale nagi’ di Tanah Reinha Maria itu. Orang-orang tua di Flotim sering menyebut nama ini manakala ditanya siapa anggota DPR RI yang paling dikenal.

“Kami hanya kenal Mekeng.” Ini jawaban yang sudah jadi umum.
Di rumah, di Waibalun, saya ingin mencari bukti apakah benar Mekeng juga dikenal. Tak dinyana, stiker anggota DPR RI dari Golkar ini masih lengket di lemari di rumah orang tua. Stiker itu sudah di tahun 2004, pemilihan legislatif tahun itu.
Masyarakat Flotim tentu punya alasan mendasar dan kuat mengapa memilih dan mengutus Mekeng ke DPR RI. Mereka pasti punya alasan mengapa harus Mekeng. Apalagi, Mekeng bukan berdarah Flotim.
Pria berdarah Sikka ini lahir di Jakarta, 8 Desember 1963. Tetapi lingkungan keluarga dan panti pendidikan yang ditempuhnya yang kebanyakan di sekolah-sekolah Katolik membentuk karakter Mekeng dengan spirit dan semangat Flores yang kental dan kuat. Postur tubuhnya kekar tinggi. Raut wajahnya ‘keras’. Sorot matanya tajam. Suaranya bariton. Dan jiwanya Flores.
Keutamaan-keutamaan inilah yang membuat Mekeng tampil sebagai orang Flores di pelosok desa dan dusun di Flotim. Dan, orang Flotim menempatkannya sebagai ‘orang kita’, bukan orang lain.
Sikap menempatkan Mekeng sebagai ‘orang kita’ ini kuat tertangkap ketika mengikuti kunjungan kerja anggota Komisi XI DPR RI ini selama empat hari di akhir Februari lalu, persisnya 24-27 Februari 2023, di Flotim.
Yang mengejutkan, apresiasi terhadap Mekeng sebagai ‘orang kita’ itu tidak cuma datang dari warga di tujuh titik pertemuan atau kunjungannya kali ini.
Sebaliknya apresiasi itu juga ditunjukkan dengan sangat baik oleh Pemerintah Kabupaten Flotim di bawah pimpinan Penjabat Bupati Flotim, Doris Alexander Rihi.

Sudah sejak penjemputan di Bandara Gewayan Tanah Larantuka, dan di semua titik kunjungan Mekeng, selalu ada beberapa pejabat pemerintah yang hadir mendampingi bergantian. Sekda, Asisten, Kepala Dinas, Kepala Bagian dan beberapa kepala bidang.
Penjabat Bupati Flotim, Doris Rihi, sendiri menjamu Mekeng dan rombongan di Aula Setda Flotim dihadiri anggota Forkompimda Flotim dan para pimpinan Organisasi Pimpinan Daerah (OPD), Jumat (24/2/2023) malam.
Doris juga, bersama anggota Forkompida, mendampingi Mekeng ketika mengunjungi dan berdialog dengan warga Desa Kolaka, Kecamatan Tanjung Bunga.
Mengapa gerangan orang Flotim menempatkan Mekeng sebagai ‘orang kita’ dan bukan orang lain? Mengapa nian Penjabat Bupati Flotim dan para pimpinan OPD Flotim memberi apresiasi tinggi kepada Mekeng?
Alasannya cuma satu. Karena Mekeng mempunyai empati, simpati, peduli dan perhatian yang luar biasa untuk Flotim. Empati, simpati, peduli dan perhatian itu diejawantahkannya melalui perbuatan baik dan perjuangannya melalui jalur politik untuk kepentingan rakyat Flotim.
Empat periode menjadi anggota DPR RI di Senayan, Mekeng sangat paham dan mengenal betul seperti apa kebutuhan rakyat Flotim yang harus diperjuangkannya.

Meminjam bahasa Doris Rihi pada jamuan makan malam di Aula Setda Flotim, “Saya tidak perlu banyak omong karena Pak Mekeng sudah sangat tahu tentang Flotim.”
Selama empat periode di DPR RI, Mekeng tanam kaki untuk pembukaan jalan baru, perbaikan dan peningkatan jalan yang sudah ada. Posisinya sebagai Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada periode lalu memberi ruang besar kepada Mekeng untuk membalas jasa orang Flotim yang sudah memilihnya.
“Pada periode lalu saya bawa uang Rp 600 miliar untuk pembangunan infrastruktur di Flotim. Saya tidak ikut campur bagaimana pembangunannya, itu urusan bupati dan dinas teknis. Saya hanya taruh uang di situ,” tandas Mekeng, lulusan De La Salle University, Philipina itu.
Dana senilai itu sudah tentu dari APBN. Bukan uang pribadi Mekeng. Tetapi adalah Mekeng yang berjuang, bertaruh argument dan mengawalnya hingga uang itu bisa mengalir ke Flotim.
Kalau bukan Mekeng yang jadi wakil rakyat orang Flotim di DPR RI, tidak bakalan jalan-jalan di Pulau Adonara licin dan mulus seperti sekarang ini. Kalau bukan Mekeng yang jadi wakil rakyat orang Flotim di DPR RI tidak bakalan dusun dan desa yang sungguh terisolasi bisa teretas oleh jalan-jalan yang dibuka.

Tahun ini, Dinas Pertanian Flotim ‘punya tambahan’ kerja karena mesti mengelola uang senilai Rp 16 miliar untuk pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). “Saya minta Rp 20 miliar, tetapi yang didapat Rp 16 miliar. Nanti saya cek lagi kenapa hanya Rp 16 miliar,” kata Mekeng.
Dana untuk pembangunan JUT ini, menurut Mekeng, hanya ada di Flotim. Tak heran, semua titik yang dikunjunginya adalah titik-titik di mana ada JUT. Dan, para petani mengakui sangat terbantu dengan kehadiran JUT.
Betapa istimewanya Flotim di mata Mekeng. Betapa besarnya perhatian Mekeng untuk membangun infrastruktur di Flotim.
Ketua DPD II Golkar Flotim, Nani Betan, benar ketika dia menyebut Mekeng sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Flotim. “Pak Mekeng ini boleh kita juluki sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Flotim,” kata Nani Betan.
Perhatian, kepedulian, perjuangan dan juga perbuatan baiknya untuk Flotim pada dasarnya merupakan bentuk pertanggungjawaban tugas sebagai seorang wakil rakyat yang hendak ditunjukkan Mekeng.
Tidak salah rakyat Flotim empat kali berturut-turut memilih Melchias Markus Mekeng pada ajang pileg.
”Tahun 2024 pasti kami pilih lagi Pak Mekeng,” kata Drs. Frans Keri Tukan, warga Kelurahan Waibalun, seorang pensiunan guru yang sekarang menjadi ketua salah satu kelompok tani di Kelurahan Waibalun. (*)







