Oleh Kons Beo
“Kita menceritakan kebohongan dan memakai topeng. Kebenaran kita terima setelah terlebih dulu kita alami kekeliruan dan tertipu”_
(T. Radcliffe, OP)
Ini soal momentum. Begitu dapat kesempatan, panggung segera dikuasai. Itulah yang akhir-akhir ini jamak terjadi. Tapi, tak semudah itu Bro bahwa panggung segera dicengkram erat. Atau dikayu sesuai seirama harapan dan ikuti selera sendiri. Sebab ada adversarius – pelawan yang pasti tak bakalan sabaran untuk lantang nan sengit melawan.
Tapi panggung memang mesti seperti itu sudah. Berisik mengusik. Tak boleh senyap. Sebab itulah skenario mesti dirakit. Setingan yang paling mudah adalah mesti mengalirnya arus kontroversi, antitesis, antinormatif, atau segala anti-apapun terhadap yang normal. Tanpa yang begituan yakinlah panggung bakal sepi pengunjung. Vacum peminat. Datar dan kosong.
Demi intensi riuh penuh silang selisih ide, panggung mesti diisi ‘pemeran-pemeran kontroversial itu.’ Bahkan sebelum manggung telah tampak pijar-pijar ketegangan. Iya, ‘lsaling tantang serius seperti sudah jadi sebuah vigili. Sebuah pagelaran ‘warming up gesek-gesek awali’ antar dua kubu. Khalayak mesti dibikin penasaran. Akan seperti apakah di hari H nanti?
Dan terjadilah. Panggung jadi kacau beribut. Itu yang terjadi belakangan ini. Perang ide bertabur peluru kata-kata tak terbendung. Iya, pangung jadi zona perang. Yang jadi intensi mulia ribut gaduh panggung adalah ‘raih kemenangan.’ Dan lawan mesti dilumpuhkan…
Dan kemenangan itu mesti diamini oleh kalkulasi mayoritas kuntitatif. Maka, suara di panggung mesti menggelegar. Kata-kata digelontorkan. Pihak lawan mesti distigma dalam amarah meletup-letup. Dan persis di situlah ekspresi kebencian jadi nyata. Diksi seram, sumpah serapa serta caci maki beruntun tak terbendung. Itulah modus brutal bermodal amarah dan benci demi menggalang simpati.







