Oleh Kons Beo, SVD
Jelaslah! Sejatinya, tak ada yang terlalu istimewa atau amatlah luar biasa. Itu sekiranya para religius, para imam apalagi seorang uskup, pada peristiwa gempa bumi seperti ini, lebih banyak berada atau tinggal di antara umat (korban).
Berada di antara umat (korban), bagi kaum berjubah-bertudung, adalah sebuah tanggapan atau sikap misioner yang sehat dan hakiki. Ini bukanlah serial dari kiat demi karier. Tidaklah demi jabatan, atau harapan akan raihan posisi kunci, ataupun demi popularitas picisan akan diri. Tidaklah!
Karena itulah…
Ketika ‘Teologi Kehadiran dan Teologi Terlibat’ ditanggapi dan jadi nyata, itulah kisah pastoral – misioner yang semestinya. Tak perlu diributkan. Tak usah digembar-gemborkan penuh heboh nan eforial-sensasional.’
Kaum klerus tentu tahu persis seperti apa kekuatan peta dari gaung-gema seputar ‘Teologi Berada dan Teologi Terlibat.’ Ketika terjadi bencana, semua, termasuk kaum klerus, mengalami kisah terdampak. Semua alami kisah derita yang sama walau dalam kualitas akibat yang bisa berbeda.
Ketika seorang uskup, misalnya, di peristiwa suram ini datang dan hadir serta menyapa sesama (umat) yang terdampak, ia tidak sedang ‘membajak kisah bencana’ demi atensi bagi dirinya. Atau bahwa dia sedang menegaskan karakter dirinya sebagai pribadi yang rendah hati, sederhana dan mengumat. Tidaklah!
Kaum klerus, kaum religius, semuanya dipanggil untuk ‘berada bersama dan terlibat.’ Gereja berziarah bersama dalam tawa dan tangis. Dalam senyum melebar dan dalam rasa sesak di dada (cf Roma 12: 25).





