Ewa Wojkowska, COO sekaligus Co-Founder Yayasan Kopernik, menegaskan bahwa festival ini bukan hanya perayaan, tetapi juga refleksi bersama.
“Dengan merayakan pangan lokal, kita tidak hanya menjaga tradisi dan identitas, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan komunitas di tengah krisis iklim yang makin parah. Dari ladang, dapur, hingga panggung, masyarakat Timor menunjukkan bahwa pangan lokal adalah kekuatan yang menyatukan kita,” ujarnya.
Sementara itu, Hario Widyananto, Country Head of Public Affairs Citi Indonesia, menyoroti pentingnya sektor pertanian bagi perekonomian nasional.
“Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi hampir 14 persen terhadap PDB nasional pada triwulan II-2025. Namun di balik angka tersebut, banyak komunitas yang masih bergantung pada solusi berkelanjutan. Citi Indonesia bersama Citi Foundation bangga mendukung Kopernik dalam misi memperkuat sistem pangan berbasis kearifan lokal,” jelasnya.
Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini memiliki makna strategis.
“Festival ini bukan sekadar perayaan seni, musik, dan kuliner, tetapi juga gerakan bersama untuk menguatkan pangan lokal, menjaga lingkungan, dan meneguhkan identitas budaya kita. Program PANGAN dan Festival Hai Mnahat membuktikan bahwa pangan lokal bukan hanya soal makan, tetapi juga identitas, kesehatan, dan masa depan generasi kita,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Grace A. Fallo, Camat SoE, yang menekankan nilai kebersamaan masyarakat.







