Sementara itu, Pratikno menambahkan terkait dengan hunian tetap, masih dalam identifikasi untuk finalisasi lokasinya dengan pertimbangan di antaranya tidak jauh dengan kampung asal para pengungsi, tidak jauh dari sumber penghidupan (kebun atau lahan pertanian), dan dapat juga diterima oleh masyarakat sekitarnya.
Ia juga menjelaskan terkait dengan komitmen pemerintah untuk merenovasi rumah yang rusak akibat konflik sosial di Adonara. “Pagi tadi kita juga ke Kecamatan Adonara Barat, di sana ada konflik sosial warga dimana 52 rumah terbakar dan pemerintah pada prinsipnya bersiap dan berkomitmen untuk segera merenovasi dan memperbaiki rumah tersebut. Kami juga siapkan dari sisi sosioantropologis-nya. Kami juga tadi ke desa yang merupakan lokasi konflik dan juga menemui tokoh masyarakat dan mendorong untuk menjalin komunikasi agar kembali berdamai sehingga situasi kembali kondusif,” jelasnya.
Sementara itu, Penjabat Gubernur NTT, Andriko, mengungkapkan apresiasi atas perhatian Pemerintah Pusat yang menaruh perhatian dan mendukung penuh penanganan bencana. “Terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Pusat dan seluruh pihak yang telah membantu Pemprov NTT dalam penanganan bencana erupsi gunung lewotobi laki-laki dan konflik sosial di Flores Timur,” ungkap Andriko.
“Kita terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada para korban terdampak bencana alam erupsi Gunung Lewotobi dan konflik sosial. Kita tentunya berharap agar kondisi pasca bencana kembali normal sehingga pembangunan fisik huntara dan huntap tetap berjalan lancar masyarakat kembali mendapatkan tempat tinggal yang baik,” tambahnya.







