Oleh : Kanis Lina Bana
Genta belis, sebatas utopia? Mungkin berlebihan. Bisa juga latah. Atau deprekatif. Berani-beraninya klaim “Genta Belis” sebagai utopia. Tapi itulah kegelisahan yang sedang liar di alam pikiran saya. Juga sebentuk imperatif moral agar cita-cita Gentas Belis benar-benar mendarat pas di “kamar” pembelajaran. Tidak sekadar buai harap berlatar angan tanpa aksi nyata.
Karena itu “kegelisahan ” ini saya alamatkan kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Provinsi NTT. Agar bijak, teratur, cerdas, pandai, dan berkesinambungan mengkritisi aktualisasi Genta Belis di sekolah-sekolah- SMA-SMK. Agar yang baik dan indah dari Genta Belis itu benar-benar “berlumur” untuk kemajuan pendidikan kita.
Sebab sejak diproklamirkan “proyek” Genta Belis, pada Jumat (22/11/2024) lalu belum kelihatan akselerasi kegiatannya. Benar ada “instruksi”-petunjuk kepada lembaga-lembaga yang berada di bawah payung PPO NTT. Tapi aksentuasi dan implementasi konkretnya masih kabur untuk tidak berlebihan dikatakan samar dan senyap.
Padahal ketika launching Genta Belis di Hotel Sylvia, Penjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur, Dr. Andriko Noto Susanto, S.P, M.P, mengingatkan secara tegas, lurus penuh optimisme. Agar bergerak bersama, bergandengan tangan demi tercapainya visi Genta Belis itu. Jadikan Genta Belis sebagai tonggak awal untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita dan generasi mendatang.
Sebab Genta Belis merupakan wujud konkret untuk menghidupkan semangat membaca, menulis, dan belajar, serta mendekatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat di lingkungan sekolah. Dan literasi adalah jalan menuju perubahan.







