Genta Belis, Sebatas Utopia?

kanis lina bana

Harapan Penjabat Gubernur NTT  itu bukan sekadar mimpi di atas mimpi, melainkan  stimuli positip  bagi kita umumnya, dan sekolah-sekolah pada khususnya. Agar Genta Belis benar-benar berguna untuk pembelajaran dan kemajuan pendidikan di NTT.  Agar Genta Belis menjadi habitus  baru di dunia pendidikan kita. Di situlah inti pesan dan target utama Genta Belis itu.

Saya terpanggil untuk mengkritisi aplikasi Genta Belis  bukan karena antipati terhadap kegiatan terdidik itu. Bukan mau cari tenar plus perhatian, tidak. Murni  getaran nubari untuk menjadikan Genta Belis sebagai “santapan” bersama memperkaya pendidikan kita. Agar program yang dicanangkan itu berbuah nyata. Berimplikasi di tingkat satuan pendidikan. Agar kegiatan membaca dan menulis menjadi peradaban kita bersama.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Amat beralasan menjadikan Genta Belis sebagai  gerakan bersama, sebab dengannya dapat  mewujudkan pendidikan berakhlak dan berkarakter. Genta Belis menjadi aplikasi pendidikan literasi.  Literasi yang berguna dan berbuah.

Hal itu beralasan karena penulis sendiri sudah lama bergelut dengan kegiatan literasi di Manggarai Timur. Sejak kabupaten bungsu di Manggarai ini dipermandikan sebagai kabupaten literasi. Sejak saat itu pula penulis konsen di bidang literasi. Mendampingi  siswi-siswi di beberapa sekolah hingga melahirkan produk berupa majalah sekolah. SMP Negeri 5 Borong, misalnya, sudah memasuki tahun ke-empat fokus dengan kegiatan literasi. Dapur ilmiah menjadi wadah bagi siswi-siswi untuk belajar menulis. Produk majalah sekolah, AsPiRa menjadi bukti nyata literasi berbuah itu.

Pos terkait