Harapan Penjabat Gubernur NTT itu bukan sekadar mimpi di atas mimpi, melainkan stimuli positip bagi kita umumnya, dan sekolah-sekolah pada khususnya. Agar Genta Belis benar-benar berguna untuk pembelajaran dan kemajuan pendidikan di NTT. Agar Genta Belis menjadi habitus baru di dunia pendidikan kita. Di situlah inti pesan dan target utama Genta Belis itu.
Saya terpanggil untuk mengkritisi aplikasi Genta Belis bukan karena antipati terhadap kegiatan terdidik itu. Bukan mau cari tenar plus perhatian, tidak. Murni getaran nubari untuk menjadikan Genta Belis sebagai “santapan” bersama memperkaya pendidikan kita. Agar program yang dicanangkan itu berbuah nyata. Berimplikasi di tingkat satuan pendidikan. Agar kegiatan membaca dan menulis menjadi peradaban kita bersama.
Amat beralasan menjadikan Genta Belis sebagai gerakan bersama, sebab dengannya dapat mewujudkan pendidikan berakhlak dan berkarakter. Genta Belis menjadi aplikasi pendidikan literasi. Literasi yang berguna dan berbuah.
Hal itu beralasan karena penulis sendiri sudah lama bergelut dengan kegiatan literasi di Manggarai Timur. Sejak kabupaten bungsu di Manggarai ini dipermandikan sebagai kabupaten literasi. Sejak saat itu pula penulis konsen di bidang literasi. Mendampingi siswi-siswi di beberapa sekolah hingga melahirkan produk berupa majalah sekolah. SMP Negeri 5 Borong, misalnya, sudah memasuki tahun ke-empat fokus dengan kegiatan literasi. Dapur ilmiah menjadi wadah bagi siswi-siswi untuk belajar menulis. Produk majalah sekolah, AsPiRa menjadi bukti nyata literasi berbuah itu.







