Pertanyaannya, “Sejauh mana sabda” itu mengakar di tengah masyarakat sekolah?” Andaikan sabda Presiden Soeharto itu benar-benar menjadi “daging” di tengah masyarakat, niscaya peradaban kita kian beradab. Membaca dan menulis menjadi budaya. Dan pendidikan kita kian maju yang berdampak pada karakter dan kualitas hidup manusia.
Sayangnya amanat Presiden Suharto itu terlempar jauh dari kurikulum kita. Belakangan sejak Anis Baswedan menakhodai Menteri Pendidikan, literasi mulai digarap lagi hingga kini. Dan dalam konteks NTT, Genta Belis, menjadi opsi beradab menuju pendidikan bermutu dan membentuk pribadi pendidik berkarakter.
Kerja Sama Penulis Lokal
Genta Belis berarti jika instrumen terkait di dalamnya terjalin cukup memadai. Untuk buku bacaan, misalnya, Dinas PPO NTT memberdayakan penulis-penulis lokal untuk menulis harta batin peradaban kita di tengah masyarakat. Kekayaan-kekayaan itu masih mewaris. Sayangnya butir-butir mutiara tersebut belum dipublikasi dalam bentuk buku. Hal itu bukan karena keterbatasan kemampuan penulis lokal untuk mengaktual dan mengsinikinikannya, melainkan karena keterbatasan ekonomi sang penulis.
Karena itu Dinas PPO Provinsi NTT hendaknya memberdayakan SDM yang ada di setiap kabupaten. Kepada mereka “diikat” kerja sama agar potensi dan kearifan lokal di NTT dihimpun, disatukan dalam publikasi buku. Produk buku tersebut diperbanyak dan disebarkan ke sekolah-sekolah sebagai sumber bacaan sekolah-sekolah di NTT.
Apalagi di NTT ada komunitas-komunitas literasi yang beranggotakan penulis-penulis top. Organisasi PPMN, FTBM, dan SP2MI, misalnya cukup peduli dan terlibat aktif dalam kegiatan literasi. Organisasi tersebut memiliki struktur hingga ke tingkat kabupaten-kabupaten. Dengan demikian memudahkan kolaborasi untuk sama-sama “menyalakan” Genta Belis itu.





