Kerja sama dengan elemen penggerak literasi dan penulis lokal tersebut amat penting agar Genta Belis menjadi proyek bersama demi meningkatkan semangat membaca dan menulis di NTT. Agar Genta Belis memiliki arah, sasaran, dan target. Jika sebatas himbauan dan mengandalkan para pengajar di sekolah, hemat saya kurang efektif. Sebab para guru di sekolah-sekolah sudah dibebani sejumlah tugas dan tuntutan administrasi yang kadang melelahkan. Akibatnya perhatian untuk aktualkan Genta Belis semakin berkurang.
Selain itu, di tingkat MKKS, perlu terobosan baru yang digagas PPO NTT. Tidak sebatas siswa-siswi, tetapi juga para guru-gurunya. Aplikasi P5 tidak sebatas pamer produk, lomba pentas, tetapi perlu dilombakan produk literasi. Atau sejumlah hasil karya literasi yang dilombakan setiap Bulan Mei di tingkat MKKS dihimpun, diverifikasi selanjutnya diterbitkan. Terutama produk lomba yang menurut penilaian juri memenuhi standar kriteria. Aksentuasi demikian memicu semangat dan gairah setiap lembaga untuk membumikan Genta Belis itu.
Jika Genta Belis masih sebatas tabur usul dan stimuli terbatas, maka kegiatan tersebut tidak lebih, meminjam Ebiet G Ade, hanya mimpi di atas mimpi. Genta Belis pun hanya jadi utopia. Jangan ah… (*)
- Penulis pegiat literasi, anggota PPMN Manggarai Timur







