Genta Belis, Sebatas Utopia?

kanis lina bana

Demikian di  SMA Negeri 8 Poco Ranaka  sudah tiga tahun terakhir konsen dengan kegiatan literasi itu. Produk kegiatan literasi  berupa  buku  Antologi Puisi berjudul, “Aku dan Senja”. Sedangkan majalah sekolah “merk’ SMART sudah tiga  edisi diterbitkan. Saat ini dua sekolah itu sedang persiapan terbit edisi berikutnya.

Dampak konkret dari literasi berkelanjutan di dua sekolah ini adalah hasil evaluasi rapor pendidikan mengalami peningkatan signifikan di bidang literasi. Meski di bidang numerasi belum memenuhi standar.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Buku Masih Terbatas

Literasi tidak sekadar mengumbar harap dan menuntut kontribusi bersama. Genta Belis-literasi punya karakternya.  Yaitu buku, membaca, dan menulis. Ketiganya   memiliki korelasi- sebab akibat. Tanpa buku orang tidak bisa membaca. Tanpa membaca orang tidak bisa menulis logis dan teratur.

Karena itu buku, semangat membaca, dan gairah menulis menjadi satu kesatuan jika iklim literasi terkover dengan baik. Di titik ini, mustahil Genta Belis bergema dan berdaya efek jika buku bacaan tidak tersedia di sekolah-sekolah.  Bagaimana bisa menulis dengan teratur sementara membaca belum menjadi budaya di lingkungan sekolah. Pun bagaimana bisa membaca jika buku-buku bacaan tidak tersedia? Itulah fakta yang tak terbantahkan dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memeranginya.

Jika kita menoleh sejarah, “propaganda” gemar membaca  sudah jauh-jauh hari  dicanangkan Presiden Soeharto. Persisnya 24 September 1996 pada Hari Aksara Internasional di Bogor. Pada kesempatan itu beliau  mengakui  minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dan memprihatinkan. Karena itu  untuk meningkatkan minat baca, Bulan Mei ditetapkan sebagai bulan buku dan Bulan September sebagai  bulan gemar membaca.

Pos terkait