Kandang Sederhana, Semangat Besar
Di sebuah lahan yang tak begitu luas, berdiri kandang sederhana tempat 200 ekor ayam dipelihara. Weli Kolo, anggota Karang Taruna, dengan bangga memperlihatkan kandang itu. Tangannya cekatan menaburkan pakan, sementara matanya sesekali mengawasi ayam-ayam yang mulai berkokok riuh.
“Beberapa ayam sudah mulai bertelur. Kami rawat bersama-sama, memberi makan, membersihkan kandang, dan mencatat produksi setiap hari. Dari kegiatan ini, kami belajar tanggung jawab dan kerja sama,” ungkapnya dengan senyum lebar.
Bagi pemuda desa seperti Weli, program ini lebih dari sekadar rutinitas. Ia merasa dilibatkan dalam sesuatu yang penting, sesuatu yang membawa manfaat nyata untuk masyarakat.
“Kami senang karena apa yang kami kerjakan bisa berdampak langsung, bukan hanya untuk keluarga sendiri, tapi untuk desa,” tambahnya.
Pemasaran untuk Masyarakat
Pemerintah desa memastikan pemasaran telur akan berjalan lancar. BUMDes bersama Karang Taruna akan menjadi penggerak utama. Telur-telur segar nantinya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan MBG (Makanan Bergizi Gratis) dan Posyandu-posyandu di desa.
Dengan begitu, manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil yang sangat membutuhkan tambahan protein. Program ini tidak hanya bicara tentang keuntungan, tapi juga tentang kesehatan masyarakat.
Pendidikan dan Pemberdayaan Pemuda
Selain menjadi sumber pangan, program ayam petelur ini juga berperan sebagai media pendidikan. Anak-anak muda dilibatkan dalam seluruh proses, mulai dari pengerjaan kandang, perawat ayam-ayam, hingga mencatat jumlah telur yang dihasilkan setiap hari.







