
Nama-nama pemateri ini sengaja disebut untuk memastikan bahwa mereka ini ahli di topik yang mereka bawakan. Juga piawai di panggung politik yang mereka geluti. Keahlian dan keterampilan mereka itu sangat bermanfaat bagi para peserta.
Demikianlah dengan dikpol di Golkar Institute, Partai Golkar mendidik, melatih dan menyiapkan para kader untuk memiliki bekal ketika nanti terjun di panggung politik, baik sebagai anggota DPR(D) maupun kepala daerah. Seperti dikatakan Dr. Ace, Golkar Institute didesain sebagai sebuah inovasi baru bagi Partai Golkar dalam rangka meningkatkan kualitas dan kapasitas kader terhadap pentingnya pendidikan serta ide untuk perkembangan partai menghadapi transformasi zaman.
Menurut Dr. Ace, dengan hadirnya Golkar Institute, Partai Golkar telah melaksanakan dua fungsi utama dari sebuah partai politik itu sendiri, yaitu fungsi pendidikan politik dan fungsi rekrutmen politik.
Dari segi pendidikan politik, Golkar Institute menjadi wujud tanggung jawab Partai Golkar kepada seluruh kader akan pentingnya pendidikan, inovasi dan ide untuk mendorong perkembangan partai politik dan negara. Dari segi rekrutmen politik, hadirnya Golkar Institute diharapkan dapat menjadi pusat rekrutmen politik yang efektif guna menghasilkan kader-kader calon pemimpin yang memiliki kemampuan di bidang sosial, politik dan ekonomi.
Menurut Dr. Ace, dua fungsi utama partai politik itulah yang selama ini tidak dilihat dari partai lain. Tak ayal, ada stigma yang didapat dari masyarakat bahwa partai politik sekarang cenderung abai terhadap kedua hal tersebut.
“Seringkali partai politik tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi kadernya secara khusus dan bagi masyarakat secara umum. Partai Golkar sangat konsisten untuk memberikan pendidikan yang baik bagi kadernya,” tandas Ace.
Kurangnya pendidikan politik bagi kader partai politik, kata Ace, berakibat tidak kompetennya kader saat menduduki jabatan-jabatan politik strategis yang ada. Alhasil, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sering tidak maksimal. Bahkan puncaknya banyak politisi yang terjerat kasus korupsi akibat tidak mempunyai bekal pendidikan politik yang baik di partainya.
Dari segi rekrutmen politik, jelas Ace, selama ini mayoritas partai cenderung menunjukkan proses rekrutmen yang tidak ideal. Rekrutmen politik dimaknai mayoritas partai sebagai kepentingan jangka pendek saja sehingga seringkali ditemukan dalam proses kandidasi mereka mengedepankan popularitas dan elektabilitas dari calon yang akan mereka usung dibanding kualitas calon.
Ace memastikan pendidikan politik yang baik di suatu partai akan berbanding lurus dengan output dari rekrutmen politik yang baik juga sehingga muncul banyak kader berkualitas dari tubuh internal partai dengan kemampuan yang mumpuni.
Dalam kesadaran seperti itulah, Golkar sangat serius dengan pendidikan politik. Golkar ingin kader-kader yang diusung dalam setiap hajatan politik adalah kader dengan kualitas teruji, kapasitas oke, kompetensi mumpuni dan wawasan luas.
Kalau politik bisa dimengerti sebagai panggung pertarungan gagasan, pengujian integritas politisi dan pembuktian passion orang-orang yang ingin bertarung di ruang politik, maka Golkar ingin kader-kadernya yang maju adalah kader-kader berkarakter kuat, berintegritas moral baik, dengan warna dan garis ideologi tegas dan jelas.
Golkar ingin kader-kadernya yang maju bukan kader-kader yang sekadar mencari pekerjaan untuk hidup di panggung politik, tetapi sebaliknya menjadikan politik sebagai ajang dan panggung mengartikulasikan kepentingan masyarakat banyak.







