
Eman Tukan dan Vian Kewohon dari Flores Timur juga senada dengan Ndung, Dua kader milenial Golkar Flores Timur ini bangga bisa bertatap wajah dengan Akbar Tandjung, tokoh yang membuat mahasiswa mesti memendam rindu untuk bertemu.
“Ilmu, pengetahuan, juga keterampilan yang kami dapat ini sangat mahal. Mahal karena membuka wawasan kami tentang politik, memberi pemahaman kepada kami bagaimana menjadi pemimpin, bagaimana mesti tampil di depan publik. Terima kasih Partai Golkar. Luar biasa,” kata Vian.
Eduard Lorensfasius juga punya kesan yang sama. Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) Kabupaten Sumba Barat Daya ini sangat mengapresiasi Dikpol Partai Golkar itu.
“Ini merupakan kesempatan yang luar biasa, apalagi tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang luar biasa ini untuk belajar bagaimana menjadi milenial yang potensial dan juga menjadi seorang pemimpin yang baik ke depan. Kami sangat berterima kasih kepada penyelenggara yakni DPP, DPD I dan juga DPD II Golkar Kabupaten Sumba Barat Daya yang mengutus saya untuk belajar bagaimana semestinya berpolitik,” kata Eduard.
Para peserta pantas bangga. Terutama karena materi dikpol itu dibawakan pemateri yang sudah punya nama dengan jam terbang tinggi di praksis politik dan bidang keilmuan mereka. Mereka di antaranya Dr. Ir. Akbar Tandjung, Erwin Aksa, Dr. Ace Hasan Syadzily, Puteri Komarudin, Mulya Armi, Andini Efendy, Melki Laka Lena, Herman Heizar.
Nama-nama ini dari Golkar pusat. Akbar Tandjung sudah sangat terkenal. Di Golkar, Akbar Tandjung itu mahaguru. Namanya sudah menyatu dengan sejarah Golkar sejak pergolakan dari Orde Lama ke Orde Baru, dan kemudian menghantar Golkar pada masa transisi dari Orde Baru masuk ke Orde Reformasi menjadi Partai Golkar.
Betul kata Dr. Acry Deodatus, Ketua Golkar Institute NTT. “Tanpa Akbar Tandjung, Partai Golkar tidak ada,” tegas Dr. Acry Deodatus ketika memberi testimoni tentang Akbar Tandjung, mantan menteri masa Orde Baru, mantan Ketua DPR RI (1999-2004) hasil pemilu pertama pada Orde Reformasi.
Sementara Dr. Ace Hasan Syadzily adalah Ketua Golkar Institute Pusat yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI.
Sama seperti Dr. Ace, Puteri Komarudin juga anggota DPR RI Fraksi Golkar. Ini anak mudah kelahiran 1993, jebolan Universitas Melbourne, Australia. Kehadiran Putri di DPR RI kuat menandai bahwa kalangan milenial sangat familiar dengan Golkar dan sebaliknya juga pintu Golkar terbuka lebar untuk kalangan milenial.
Kalau Mulya Amri adalah doktor di bidang kebijakan publik lulusan National University of Singapore. Mulya adalah mentor di Golkar Institute Pusat yang piawai mengelola pelatihan dalam suasana sersan, serius tapi santai.
Sedangkan Andini Efendy tak lain adalah penyiar di salah satu televisi nasional. Bagaimana mesti tampil dan berbicara di depan publik, Andini jagonya.
Kalau Melki Laka Lena semua peserta lebih dari kenal. Ketua DPD Golkar NTT ini selalu tampil dengan jiwa mudanya memimpin Partai Golkar NTT. Partai sekelas Golkar jadi begitu cair oleh gaya kepemimpinan Melki Laka Lena. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang kondang dengan tagline MLL ini mampu menjembatani kalangan senior dan milenial di Golkar NTT.
Tampil juga tiga pemateri dari NTT, yakni Dr. Rudi Rohi, dosen ilmu politik di FISIP Undana. Rudi terkenal dengan analisis politiknya yang bernas dan tajam.
Juga Pater Yul Yasinto, SVD, M.Sc, ahli Social Policy dari London University. Pengalamannya dua periode menjadi Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang amat relevan dengan materi yang dibawakannya.
Dikpol jadi komplit dengan tampilnya Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin. Praktek dan pengalaman mengelola pemerintahan membuka wawasan sekaligus mencerahkan para peserta.







