Keangkuhan Rohani

IMG 20241231 WA0018 1

Pada Hari Minggu, kita ke Gereja dalam keadaan rapi, bersih dan berpakaian bagus. Karena kita tahu dan sadar bahwa kita mau berpesta bersama Tuhan di Rumah-Nya. Kita tahu betul bahwa di Gereja, kita akan berjumpa dengan Tuhan yang agung dan berbelas kasih. Maka, Ekaristi mestinya menjadi sebuah pesta yang meriah, agung dan semarak. Namun, sikap lahir saja tidak cukup. Tuhan mau melihat sikap batin kita. Itu berarti, kita datang ke Gereja dengan hati yang tenang dan damai, sebab kita rasa aman dengan diri kita sendiri, dengan sesama dan dengan Tuhan yang mau kita jumpai.

Bukan seperti orang farisi yang datang berdoa di Bait Allah dengan keangkuhan dan kesombongan dirinya. Kita semua adalah manusia yang lemah dan berdosa. Si Farisi juga seorang yang berdosa namun tidak menyadarinya. Keangkuhan rohani hanya ditunjukkannya untuk memuji diri dan menghina orang lain. Dia merasa bahwa kata-kata dalam ucapannya itu lebih tulus dari orang lain dan merasa lebih pantas mendapat rahmat dari Allah. Bukan. Karena itu, kita datang ke Gereja dengan sikap hati seperti Si Pemungut Cukai. Dia sadar bahwa dia itu orang berdosa. Kesadaran itu, yang mendorongnya untuk memohon belas kasihan dari Tuhan: ‘Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini’.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Keangkuhan membuat hati tertutup bagi rahmat dan berkat Tuhan. Ia menumbuhkan sikap menghakimi dan menjauhkan kita dari semangat kasih dan pengampunan baik dari sesama dan dari Tuhan sendiri. Tuhan tidak mencari doa yang indah, melainkan hati yang jujur. Ia tidak menunggu persembahan yang besar, melainkan kerendahan hati yang tulus.

Pos terkait