Keangkuhan Rohani

IMG 20241231 WA0018 1

Selama Bulan Oktober, kita berdoa rosario bersama dan dengan Bunda Maria. Dalam pendarasan doa ‘Salam Maria’ berulangkali kita ucapkan – ‘doakanlah kami, yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati, Amin’ – di sini, kita memohon agar Bunda Maria sebagai pengantara rahmat berdoa kepada Allah untuk belas kasih dan pengampunan bagi kita orang-orang berdosa ini.

Maria, perempuan sederhana dan bersahaja dari kampung Nazareth, yang dipilih menjadi Ibu Yesus dan Bunda Gereja, bukan karena keangkuhannya, melainkan karena kerendahan hatinya. Dalam Magnificat-nya, Maria berseru: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan, sebab Ia memperhatikan kerendahan hati hamba-Nya’ (bdk. Luk. 1:46.48), menunjukkan kepada kita bahwa Maria tidak pernah membanggakan dirinya apalagi menghina yang lain. Maria juga tidak membandingkan dirinya dengan sesama kaumnya. Ia hanya berkata: ‘Terjadilah padaku, seturut kehendak-Mu’ (bdk. Luk. 1:38b). Sebuah pasrah yang total, sebuah taat yang setia tanpa menganggap diri lebih baik dari yang lain. Dalam diri Maria, kita melihat bagaimana kerendahan hati membuka ruang bagi karya besar Tuhan untuk keselamatan dunia dan manusia.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Karena itu, kita datang ke Gereja dengan maksud untuk menghormati, memuliakan dan bersyukur kepada Tuhan atas segala rahmat dan berkat yang sudah kita terima. Itulah tujuan kita untuk datang sembahyang: merayakan Ekaristi pada hari minggu dan hari-hari lainnya.

Untuk itu, kita harus datang dengan penuh kerendahan hati seperti Pemungut Cukai dalam kisah Injil Luk. 18:9-14. Dengan demikian, pada akhir perayaan Ekaristi, ‘kita kembali sebagai orang-orang yang dibenarkan, yang diterima dan yang diampuni oleh Allah’.

Pos terkait