Bacaan I Kejadian 18:20 – 33
Mazmur Tanggapan: Mzm 138: 1-2a.2bc-3.6-7ab.7c-8
Ref: “Pada hari ini aku berseru kepadaMU, jawablah aku, ya TUHAN.”
Bacaan II Kolose 2: 12-14
Injil Lukas 11: 1 – 13
“Apabila kamu berdoa , katakanlah….”
Lukas 11: 2
(Cum oratis, dicite…)
Kawan ku…
Kuingat kata-kata itu. Sehebat dan sekian mahakuasanya TUHAN, IA toh dapat dikalahkan oleh manusia. Dan adalah DOA, itulah senjata manusia untuk ‘mengalahkan’ TUHAN.
Kawan ku…
Tentang berdoa? Yang kupahami amatlah ringan dan sederhana. Itulah karakter ungkapan iman kita. Dia bukanlah kegiatan. Bukan sekedar ‘apa yang kita lakukan.’ Doa adalah kehidupan kita sendiri yang mesti tetap kokoh dalam Tuhan. Seperti kata sang bijak, “Doa adalah nafas yang kita hirup dan kita hembuskan, demi jantung spiritual kita tetap berdetak. Dan kita alami hidup yang sesungguhnya.”
Kawan ku…
Mari kita masuk dalam ‘alam dan suasana doa.’ Biarlah sesederhana dan apa adanya. Tak perlu kita selalu ‘mewah sekian gelegar gempita dalam doa.’
Mari hadirlah kita dalam sunyiNYA. Alamilah kehadiranNYA penuh teduh. Berbicaralah denganNYA dalam nada puji dan syukur, dalam rasa penuh karib kekeluargaan. Sebab ALLAH adalah BAPA semua kita bersama.
Kawan ku…
Jujurlah bahwa kita pernah putus asa dalam berdoa. Sepertinya TUHAN diam membisu untuk apa yang kita impikan. Kita jadinya merajuk. Sebab doa adalah kesia-siaan.
Tetapi, sang bijak ingatkan: “TUHAN pasti telah memperhitungkan semuanya. Bilamana dan dalam suasana seperti apakah, kita bakal jadi insaf akan jawaban doa yang pasti.







