Kawan ku…
Ada satu lagi yang tetap kuingat. Doa itu bukanlah rumusan kata-kata magis untuk keluar dari kenyataan hidup ini. Tetapi, dalam doa, dengan rahmat dan bantuan TUHAN, kita selalu miliki harapan di dalam kuat kuasa dan kehendak TUHAN sendiri. Untuk menghadapi kenyataan hidup ini. Tanpa pernah putus asa….
Kawan ku….
Ada lagi yang ingin kubilang. Doa bukanlah ungkapan hati yang berintensi maut dan kebinasaan. Pernah kah kau berharap sekali bahwa tetanggamu atau sesamamu tertentu itu sakit, gagal, tak pernah berhasil, selalu dalam kemalangan??? Itu bukanlah doa!!! Sebab doa itu selalu bertolak dari kemuliaan hati dalam iman menuju kebaikan.
Yakinlah kawan ku….
Doamu itu pasti sesat saat kau lantang bersuara demi Langit Surgawi dan malah atas TUHAN sendiri untuk ‘memusnahkan, untuk merusakkan, untuk membinasakan dan untuk mencelakakan hidup sesamamu..’
Kawan ku….
Kita sama-sama paham.
Doa itu bukanlah sebatas kata-kata. Bukan hanya seputar teori dan pengajaran tentang berdoa. Doa adalah satu kesaksian hidup iman yang tangguh. Yesus, TUHAN, tak hanya mengajar bagaimana harus berdoa. ‘Tetapi IA adalah sosok pagi-pagi benar mendaki sebuah gunung untuk berdoa (cf Luk 9:28); IA adalah sosok untuk semalam-malaman berdoa’ (cf Luk 6:12-13).
Kawan ku….
Akhirnya, bagaimana mungkin ‘anak-anak usia belia belajar berdoa, ketika mereka benar-benar ketiadaan keteladanan dalam berdoa.’
Kiranya kebersamaan kita dalam ikatan keluarga, juga menjadi kebersamaan – persekutuan di dalam DOA. Marilah kita belajar pula dari Komunitas Perdana. “Mereka berkumpul bersama untuk ‘berdoa dan memecah-mecahkan roti” (cf Kis 2: 42).







