Akhir 4 – 2 untuk Kroatia benar-benar kuburkan mimpi penuh ambisi Brasil. Ada apa dengan Rodrygo Goes? Penyerang Real Madrid itu sepertinya tak percaya diri untuk eksekusi pinalti. Benar-benar mengerikan. “Kroatia makan korban lagi…” Dan tak main-main, adalah Brasil yang diremuknya.
Namanya bola itu bundar! Tak pernah tahu hasil pasti sampai peluit akhir berbunyi. Sepertinya semuanya sudah tamat saat Neymar bikin gol itu. Namun, tak ada kata menyerah buat Kroatia. Buatlah saja komen-komen seadanya. Lukiskan saja kisah Brasil yang kalah tragis dan Kroatia yang menang dramatis itu.
Publik mesti akui. Betapa apiknya Kroatia. Amat piawai dalam ‘operan bola.’ Sekian disiplin pula untuk harus bikin Richarlison, Vinicius, Raphael tak nyaman. Penyerang-penyerang Brasil yang lincah itu harus jangan dibiarkan begerak bebas sesuka ria di area pertahanan.
Adakah faktor X di balik kehebatan Kroatia itu? Berfantasi sajalah seadanya. Kroatia bukannya tak mau kalah dari Brasil. Yang mereka takutkan itu “jangan sampai Brasil bergoyang-goyang di depan mereka setelah gol tercipta.” Katakan begini saja, “Kalah boleh kalah. Tetapi harus lihat mereka menari-nari? Itu yang tidak boleh. Itu yang harus dilawan!”
Bisa saja pasukan Kroatia tak mau untuk semacam ‘dihina-hina seperti kata segelitir pengamat.’ Itu yang dibuat tim Samba, misalnya, ketika melumat Korsel. Apakah ini berarti ‘goyang Samba kini bisa saja sudah berujung karma?’
Tapi mari menelisik Zlatko Dalic. Ia akui kedigdayaan tim Samba. “Brasil adalah tim terbaik di turnamen ini..,” katanya. Semua yang terbaik dalam sepakbola ada pada tim Brasil. Sepantasnya kita tangkap saja sinyal peperangan dari Kroatia. Dan itu pula lah kata-kata Dalic, “Mungkin kita lebih menginginkan di final ketimbang di perempat final.”






