Tampaknya, semalam di Stadion Kota Pendidikan Ar-Rayyan itu benar-benar serupa satu pertandingan final bagi Kroatia. Harus menang melawan tim favorit sekelas Brasil sudah jadi kebanggaan. Seperti itu pula mungkin rasa hati Aboubakar, penyerang Kamerun itu. Baginya, bikin gol dan memenangkan Kamerun lawan tim sekelas Brasil adalah sukacita tak terlukiskan. Ia tak peduli lagi bahwa ekspresi sukacitanya akhirnya berbayar kartu merah.
Brasil terlalu indah gemulai. Penuh daya pikat. Banyak mengandung umpan dalam goyang Sambanya. Sebab itu, ‘menaklukkan Brazil’ adalah perjuangan sengit bagi tim-tim mana pun. Sungguh beruntunglah Kroatia yang sanggup taklukkan si cantik gemulai jogo bonito itu. Harus ada daya juang. Tak pernah boleh menyerah sedikitpun.
Bagaimana pun, mari kembali ke Zlatko Dalic. Si arsitek utama di balik tim Kroatia itu. Dalic selalu tampil kalem. Ia tampak teduh beri instruksi dan menatap permainan anak-anaknya. Tampilan ala Dalic seperti ini pasti berbanding terbalik gerak-gerik heboh Luis Enrique, pelatih Spanyol. Yang selalu lenting-lenting heboh kalau Spanyol bikin gol.
Di semifinal dan final nanti, tak ada lagi Neymar dkk. Mesti segera bale nagi ke tanah Brasil. Dari tanah Amerika Latin, kini yang ‘tersisa’ masih ada Messi dkk. Tim Tango bakal bersiap-siap hadapi Kroatia yang sudah menantinya. Messi dkk telah lewati laga sulit dan berat kontra Belanda.
Berakhirlah dan selesailah sudah perhelatan Piala Dunia Qatar 2022 bagi Tim Samba. “Adeus, jogo bonito do Brazil.” Iya, setidaknya di safari Qatar ini.






