Untuk itu maka sebagai pengikut Yesus sikap dan tindakan mengembangkan semangat toleransi dan keterbukaan serta kesediaan untuk bekerja sama merupakan keharusan. Orang beriman yang sungguh-sungguh beriman pada hakekatnya berjiwa toleran dengan semua orang tanpa pandang bulu, sehingga tidak perlu diatur oleh sebuah undang-undang ataupun peraturan pemerintah. Seseorang tidak serta merta menjadi toleran dengan sesamanya oleh karena sebuah aturan atau undang-undang.
Pastor Adu Kerans menghidupi sikap toleran bukan sebatas karena perintah undang-undang tetapi karena mengikuti teladan Yesus yang ia imani. Untuk itu maka baginya wajah kemajemukan di daerah mesti dijaga dan dipelihara. Karena kehidupan yang baik di daerah akan membawa dampak kepada kehidupan negara Indonesia yang baik pula.
Hidup rukun dan damai dalam perbedaan suku, agama dan golongan inilah, yang disuarakan dan diperjuangkan secara hati nurani dan akal budi oleh Pastor Adu Kerans. Beliau memainkan formulasi kepemimpinan yang terus bergerak secara dialogis, dinamis, dan dialektis.
Dalam diri beliau tertanam komitmen kesetiaan dan ketaatan untuk menjaga toleransi di antara umat beragama. Posisinya sebagai ketua FKUB Kabupaten Flores Timur membuat dirinya secara struktural terus menumbuhkan, menaburkan, menyuburkan, membumikan, dan menjalankan sila-sila Pancasila dan keseluruhan ekosistem Ideologi Pancasila di tingkat daerah.
Romo Adu Kerans sangat mengedepankan sikap moderasi beragama. Baginya moderasi bergama itu penting. Mengapa moderasi beragama penting hadir di Indonesia? Karena moderasi beragama bisa menjadi solusi untuk menciptakan kerukunan, harmoni sosial, sekaligus menjaga kebebasan dalam menjalankan kehidupan beragama, menghargai keragaman tafsir dan perbedaan pandangan, serta tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama.





