“Saya sebagai Ketua DPR RI dan Ketua Umum Golkar waktu itu mengambil langkah menentang putusan Gus Dur. Dalam kapasitas sebagai Ketua DPR, saya kirim surat ke MA minta fatwa hukum atas dekrit pembubaran DPR dan Partai Golkar itu. Ketua MA adalah Profesor Bagir Manan. Saya komunikasikan dengan Pak Bagir karena sudah kenal baik,” tutur Akbar.
Usai menerima surat itu, tutur Akbar, malam hari itu juga Ketua MA menggelar rapat dengan para hakim agung. Dalam rapatnya MA menilai tindakan Gus Dur membekukan DPR dan membubarkan Golkar bertentangan dengan konstitusi. Fatwa MA keluar besok paginya. Dan, Golkar tetap eksis. Dan justru Gus Dur lengser.
Badai berlalu. Akbar Tandjung kemudian tampil menjadi master mind yang mereformasi Golkar menjadi baru. Golkar menjadi Partai Golkar. Hasilnya sungguh mengagumkan. Terbukti dari pemilu ke pemilu. Partai Golkar tidak pernah keluar dari dua partai papan atas di negeri ini. Atas jasa dan perjuangan inilah, Akbar Tandjung sampai hari ini sangat dihormati, disanjung para kader Partai Gokar di seluruh Indonesia. Penghormatan itu juga sangat terlihat di Hotel Sahid T-More Kupang ketika itu.
Saat kakinya melangkah memasuki aula hotel, aura kebesaran Akbar Tandjung terasa. Dengan kepalan tangan terangkat, Akbar Tandjung memekikkan yel yel kebesaran Partai Golkar. “Golkar…. Indonesia!!! Indonesia…… Golkar!!! Golkar…. menang, menang, menang….!!!”
Di panggung ketika hendak memulai wejangannya, Akbar Tandjung dua kali meminta semua yang hadir menyanyikan lagu Mars Partai Golkar. Sebagaimana lagu mars, irama Mars Partai Golkar menghendak adrenalin dan membakar spirit.



