Dengan konteks sejarah seperti itu, pria kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, 14 Agustus 1945 ini bertahan di Golkar. Sampai hari ini tetap bertahan dan mendapat kepercayaan menjadi Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar. Aktivis 66 ini tidak lari sejengkal pun dari Golkar. Lari mencari zona nyaman di tempat lain. Lari menyelamatkan diri. Dalam satu kata, Akbar Tandjung bukan pecundang yang hanya mau enaknya saja.
Konsistensi pada sikap dan pilihan, itulah karakter kuat yang ada pada Akbar Tandjung sebagai seorang politisi ulung. Bukan politisi oportunis yang mudah goyah oleh godaan dan tawaran lain.
Dituntun karakter seperti itu, Akbar Tandjung sangat berharap negara besar ini mesti dipimpin oleh pemimpin berkarakter kuat. Yang fokusnya bekerja, bekerja dan bekerja. Bekerja membangun negeri. Bukan sebaliknya pemimpin yang hanya bisa bernarasi, berkata-kata dan menebar janji.
Akbar Tandjung tentu berharap negeri ini membutuhkan pahlawan yang total bekerja membangun bangsa. Bukan pahlawan kesiangan yang mencari popularitas murahan.
Sebagai partai berbasis sistem, Golkar punya pengalaman, punya jam terbang, teruji dari masa ke masa menyiapkan kader-kadernya untuk tampil di atas piramida pembangunan. Tidak salah, Akbar Tandjung merindukan Golkar kembali mengambil alih kepemimpinan bangsa ini, baik di legislatif maupun di eksekutif. *
- Penulis, Wakil Sekretaris Golkar NTT





