Ada lagi benih-benih yang tertabur di kawasan semak-semak. Terlalu riskan untuk dihimpit oleh “kekuatiran dunia dan cobaannya,” itulah yang direnung dari kata-kata Yesus. Benih-benih itu, jadinya tidak berbuah. Tidak menghasilkan.
Di titik ini, segera teringat lagi Pastor Fritz Braun, SVD, misionaris asal Jerman, almarhum. Puluhan tahun lalu. Beliau itu punya tugas untuk urus kesejahteraan hidup (fisik) di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Siapa pun yang kenal Pastor Fritz pasti ingat tesis klasiknya. Kurang lebih begini, “Allah pandang hati orang. Ya, hati baik itu sudah cukup dan bahkan berlimpah; tidak penting agamanya apa?”
Seputar “perumpamaan tentang penabur” masih terekam kata-kata Pastor Braun, SVD itu. Sekiranya yang salah dan ditegur keras itu adalah si ‘penabur.’ Bila dirumuskan bunyinya sekian, “Penabur itu mesti buka mata dan hati. Jadilah bijak! Jaga benih itu baik-baik. Jangan sampai ia tercecer jatuh di pinggir jalan atau di bebatuan. Kalau kau lihat ada semak-semak, jangan kau tabur di situ. Semuanya riskan…!”
Tentu yang dilukiskan di atas bukanlah kutipan langsung dari kata-kata Pastor Braun. Ia punya gaya berbahasa (Indonesia) amat istimewa untuk ditangkap dengan tenang. Namun, Pastor Braun itu ‘penuh masuk akalnya.’ Tetapi, kurang lebih isi dan maknanya seperti itu.
Perenungan kita pasti tak berhenti di sini. Sungguh mulia dan luar biasalah para pendengar Yesus, katakan saja para pekerja, pengusaha atau penggarap jika mereka miliki ‘transformasi mental’ dalam merawat benih-benih itu. Artinya, tak berhenti sebatas mengeluh karena area ‘pinggir jalan, bebatuan dan bersemak duri itu. Namun, tetap temukan peluang untuk bekerja keras. Repot memang kalau terlalu banyak ‘lipat tangan atau mencintai tidur panjang’ seperti yang dialarmkan oleh Kitab Amsal.







