Bertarunglah agar semuanya menjadi kawasan baru penuh harapan! Yang berbatu-batu dan penuh semak bisa berubah jadi ‘kolam susu dan kawasan penuh madu, dengan ternak yang tambun-tambun pula.’
Itulah impian dan kerja keras untuk mengubah tanah yang selalu berkeluh dan diratapi menjadi ‘terra promessa’ (tanah terjanji). Janganlah sampai kalau tanamannya layu-layu, ternaknya kurus-kurus rusuk terbilang, sementara petani dan penggembalanya tambun-tambun.
Entahkah sambungan kata-kata ini pas atau tidak? Di Hotel Aston-Kupang, Senin 18 Juli, 2022, suara Pak Gubernur sungguh menantang. Satu tantangan positif bagi para pemimpin di NTT ini. “Saya tegaskan bahwa jika dipercaya jadi pemimpin, maka setiap kita harus mampu menunjukkan kinerja dalam mengelola keuangan negara.”
Miskin dan tetap miskin sungguh jadi gangguan tak mengenakkan. NTT sesungguhnya terlalu potensial untuk berubah dari apa yang disebut miskin itu. Tetapi kata-kata gubernur menyasar serius para pemimpin. Intinya, ‘benih keuangan’ plus sumber daya alam (SDA) serta kecerdasan para pemimpin bukan tak mungkin akan membawa NTT ke alam pertumbuhan ‘seratus, enam puluh atau tiga puluh kali lipat.’
Media ini, kabarntt.co, awali berita dengan kalimat menarik. “Ini peringatan kritis dan cerdas dari Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Menurutnya, hasil penjumlahan orang bodoh dan malas sama dengan miskin…” Benar ‘bodoh dan malas sekian akumulatif’ akan bermuara pada genangan kemiskinan.
Tetapi, NTT tak kurang dengan orang cerdas dan enerjik. Tentu ini perlu telaah yang serius. Tetapi, yang jadi soal serius adalah apakah ada kemampuan yang baik dan penuh perjuangan untuk berubah? Ini belum lagi terhitung dengan kearifan-kearifan praktis yang terabaikan.







