Ambil saja satu dua contoh simpel. Selentingan kalimat terdengar, ‘Untuk segala jenis pesta, ada trik untuk penggalangan dana. Kita kelimpahan daging ‘tabuang-buang’ saat pesta. Terus untuk nutrisi protein harian? Kita kebanjiran saat musim hujan, tetapi segera jadi kering kerontang saat kemarau. Sepatutnya, entah musim hujan atau sekalipun musim kemarau, tetaplah air bersih yang tetap tersedia. Tentu ada banyak kisah-kisah penuh ironia lainnya.
Jangan-jangan kita tidak hanya sebatas “penjumlahan bodoh dan malas yang menghasilkan keadaan miskin” seperti kata Pak Gubernur Viktor. Tetapi bahwa kita mesti juga bijak dalam mendesain alur hidup ini secara luas. “Janganlah kita tenggelam ketika hujan lebat, dan janganlah pula terpaksa sampai harus mengisap darah sendiri karena kemarau nan panjang.”
Haruskah NTT tetap dikontemplasi sebagai area ‘pinggir jalan, tanah kering bebatuan, dan penuh semak durinya?’ Kata-kata Yesus sekiranya bisa dibawa ke ranah praksis dan kebijakan. Sebab kataNya, “Qui habet aures audiendi, audiat” – Mat 13:9 – (Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan!)
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma







