Awal Juli 2013, pecah pertikaian antara warga Desa Redon Tena versus warga Desa Adobala di Kecamatan Kelubagolit. Ketika itu, seorang warga Desa Redon Tena tewas, bagian leherya terputus akibat sabetan parang (Pos Kupang, 2/7/2013).
Lalu, pertikaian berdarah melibatkan warga Desa Wewit dan Warga Desa Nubalema 2 di Kecamatan Adonara Tengah, awal Juni 2019. Konflik itu merenggut satu korban meninggal, tiga korban luka dan lima rumah ludes terbakar.
Konflik paling mencekam terjadi di Sandosi, Kecamatan Witihama, awal Mei 2020. Dua kubu warga dari suku Lamatokan dan Suku Kwaelega terlibat konflik perebutan tanah kebun di Wulen Wata, mengakibatkan enam orang tewas (Antara, 6/3/2020).
Pertikaian paling akhir terjadi pertengahan Maret 2021 di Desa Kenotan, Kecamatan Adonara Timur. Tetap terkait tapal batas lahan kebun, konfliknya malah terjadi dalam lingkungan keluarga rapat. Pertikaian itu mengakibatkan satu orang mengalami luka terkena sabetan parang di bangian lengan. Tersangka pelakunya kini sedang menjalani proses hukum di Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur.
Yang disebutkan hanya beberapa contoh konflik berdarah yang bersumber dari sengketa tanah. Sebagai catatan pendukung, simak misalnya catatan misionaris Katolik asal Belanda, Ernst Vatter melalui bukunya berjudul “Ata Kiwan” (Orang Pedalaman) yang terbit tahun 1932. Seperti diuraikan wartawan Laurens Molan melalui artikelnya berjudul “Adonara dan Sebuah Kisah perang Tanding”, Ernst Vatter bahkan sampai melukiskan Adonara sebagai Pulau Pembunuh (Antara, 20/11/2012).





