Namun demikian, dampak ekonomi positif ini belum mencapai potensi maksimalnya. Sejumlah kendala masih membatasi pergerakan ekonomi di sekitar terminal, antara lain keterbatasan fasilitas, kurangnya pengelolaan profesional, dan belum lengkapnya jaringan transportasi penghubung dari pusat kota ke terminal. Akibatnya, arus penumpang belum stabil, dan masyarakat yang ingin berbisnis di sekitar terminal masih ragu untuk berinvestasi lebih besar.
Selain itu, peran pemerintah daerah sangat menentukan keberlanjutan manfaat ekonomi dari terminal ini. Tanpa dukungan regulasi dan promosi yang jelas, Terminal Km 9 bisa saja hanya berfungsi secara administratif—melayani manifest penumpang lintas batas—tanpa memberi dampak luas bagi ekonomi lokal. Pemerintah daerah perlu menyusun rencana pengembangan kawasan terminal secara terpadu, misalnya dengan membangun pasar kecil, area parkir logistik, dan zona kuliner rakyat yang terorganisasi.
Pemerintah juga perlu memastikan adanya akses transportasi kota yang memadai menuju terminal, sehingga masyarakat lokal mudah mengaksesnya. Dengan begitu, terminal tidak hanya menjadi fasilitas bagi bus antarnegara, tetapi juga bagian dari sistem transportasi dalam kabupaten yang menghidupkan perekonomian Kefamenanu dan sekitarnya.
Jika dikelola dengan baik, Terminal ALBN Km 9 bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di TTU. Selain membuka peluang usaha lokal, terminal ini juga memperkuat posisi TTU sebagai wilayah perbatasan yang produktif dan terhubung dengan jaringan ekonomi regional, khususnya antara Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste.







