Jika demikian, betapa sekian banyak netizen, yang penuh amarah itu, ramai-ramai telah terjeblos dalam rawa-rawa salah penafsiran. Artinya, tiga kata itu tidak untuk remeh-hinakan Candi Borobudur. Bukan! Tentu juga tak hendak hinakan ‘Jokowi’ yang gambarnya termirip di stupa ini. Tidak! Artinya, di titik ini, Roy tak sedang nistakan agama. Tidak pula ‘tak santun pada Jokowi’ sebagai Kepala Negara.
Roy bisa dipahami dengan segala klarifikasinya ini. Malah, telah ada kecurigaan di pihaknya bahwa semuanya ini mulai bergerak dalam ‘arus politisasi.’ Adakah para buzzer yang dianggap telah maen kotor tiupkan bara api politik? Punya intensi buruk untuk panaskan suasana? Maklum, Roy memang terkenal kritis menelaah keadaan negeri jika menurutnya lagi tak elok!
Meraba-Raba Letak Persoalan
Sepatutnya netizen kontra Roy hindari diri dari tendensi berkomen tak santun! Yang melabraknya dengan jurus ad hominem yang selalu itu-itu saja. Keramaian stupa Candi Borobudur tak ada hubungan dengan ‘bekas menteri panci zaman SBY.’ Sepantasnya ikuti saja dengan ketenangan hati ‘arus logika Roy.’
Akibat dibuatnya meme itu Roy pasti tak bisa tidak untuk mengatakan ‘saya sungguh merasa ceriah dan gembira.’ Sebab itulah Roy menulis, “Hehehe – lucu – ambyar.” Tidakkah hal ini yang membuat Roy sekian ceriah? Tapi ingatlah! Sudah dibilang: Bukan lucu karena Candi Borobudur terhina! Tidak pula lucu karena gambar mirip Jokowi. Semuanya jadi lucu semata-mata karena kreativitas ‘yang memposting pertama itu.’
Itu berarti Roy bukan subyek pertama, bukan inisiator atau bukan pula protagonista, yang ‘bikin heboh suasana, apalagi sampai melecehkan kesakralan tempat suci agama Budda.’ Simpelnya, Roy hanya ‘terciprat dalam dirinya sendiri rasa lucunya’ saat ‘gambar itu lewat di hadapannya.’ Dan bukan tak mungkin ‘ia bisa saja hendak mengajak Sabang sampai Merauke untuk ber hehehehe dalam kelucuan masif.’





