Di Ende Sukarno menemukan kemajemukan agama dan suku. Selain itu Sukarno juga mencari stimulasi intelektual ke tempat lain. Setelah selesai berkebun, membaca koran dan buku, terkadang Soekarno pergi berjalan-jalan ke kompleks misi Katolik Roma di sebelah timur Kampung Ambugaga. Mula-mula Soekarno secara periodik menemui para pastor di situ dan hampir menjadi acara harian untuk bertemu dengan para pastor, berdiskusi dan membaca banyak buku-buku.
Soekarno tidak menyangka bahwa dirinya dan para pastor bisa mendapatkan topik percakapan standar intelektual yang menarik terkait dengan permasalahan kemanusiaan, ekonomi, keadilan, penjajahan dan agama. Ia bersahabat dengan pastor G. Huytink, J. Bouman, dan Bruder Lambertus. Soekarno tahu kalau sejumlah pastor itu sangat tidak setuju terhadap penjajahan. Para Pastor sangat mendukung perjuangan Soekarno mengusir pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Di Ende, Soekarno menulis dan mementaskan sekitar dua belas lakon drama. Sandiwara drama ini semuanya membangkitkan semangat membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Judulnya Rahasia Kelimutu {dua (naskah dalam satu) seri}. Tahun 1945, Nggera Ende, Amuk, Renda, Kutkuthi, Maha Iblis, Anak Haram Jadah, Dokter Setan, Aero Dinamit, Jula Gu bi, dan Siang Hai Rumbai.
Melalui Tahun 1945, Soekarno bahkan sudah membayangkan bangsa Indonesia akan terbebas dari belenggu penjajahan pada tahun 1945. Melalui sandiwara yang sama, Soekarno bahkan sudah memperkirakan kemerdekaan itu akan direbut dari penjajah Jepang.





