Dari Ende Menuju Indonesia

agustinus siswani iri1

Pementasan sering dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sehingga membuat gerah Pemerintah Hindia Belanda. Delapan naskah asli karya Soekarno diduga hilang. Delapan naskah itu ialah kedua naskah Rahasia Kelimutu, Renda, Jula Gubi, Kutkuthi, Anak Haram Jadah, Aero Dinamit, dan Dokter Setan. Naskah asli berupa tulisan tangan tercecer. Yang ada di situs Soekarno ialah salinan ketik dari tulisan tangan itu.

Pluralitas dan multikulturalisme masyarakat Ende memungkinkan Bung Karno memasak dan mematangkan landasan dasar masyarakat merdeka yang dicita-citakannya. Itulah blessing in disguise (hikmah di balik musibah) pembuangan Sukarno oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Kampung Ambugaga, Ende, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak tanggal 14 Januari 1934 hingga tanggal 18 Oktober 1938.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Nilai pluralitas dan multikulturalisme inilah yang diyakini mengilhami Sukarno dalam menggali “Lima Butir Mutiara” Pancasila. Sukarno pun menegaskan bahwa nilai “Lima Butir Mutiara” murni diambil dari dalam bumi Indonesia. Ende menjadi awal dan miniature Pancasila untuk Indonesia. Nilai Pancasila  itu tidak datang dari pemikiran asing. Nilai itu datang dari gambaran kehidupan keseharian masyarakat Indonesia. Nilai itu dari masyarakat yang berbeda agama, berbeda suku, berbeda tingkat kehidupan ekonomi, tetapi bersatu untuk kesatuan bangsa, bersatu untuk urusan nasionalisme.

Pancasila menawarkan kekayaan nilai yang luhur. Keberagaman di Indonesia harus dijaga, dipertahankan, dan dilestarikan karena menjadi modal utama dalam membangun bangsa yang lebih kuat dan makmur.  Semua anak bangsa jangan menjadikan keberagaman tersebut sebagai perbedaan untuk saling membatasi, tetapi untuk saling melengkapi dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Pos terkait