Dari Sani ke Budi : Persembahan Keluarga Kleden

duo kleden
Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (kiri) dan Mgr. Dr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD (kanan)

Di tengah keluarga,  Budi  tampil sebagai seorang anak yang rajin, patuh dan hormat.  Rajin di rumah. Patuh kepada orang tua. Hormat kepada siapa saja. Ketika masih duduk di bangku SMP Pankrasio Putra Larantuka,  Budi sudah telaten dan terampil bekerja sebagai seorang tukang kayu.  Kedua  tangannya piawai memegang dan mengoperasikan alat-alat tukang kayu.  Serut kayu (skap) berbagai jenis,  penggaris siku, meter,  gergaji, hamar berbagai ukuran,  pahat kayu,  perusut, klem (sersan), bor dikuasainya dengan baik.  Tentu saja bukan peralatan listrik seperti sekarang ini. Semuanya masih manual. Beragam  alat tukang kayu ini sudah jadi teman setianya saban sore usai pulang sekolah.  Kursi, meja, tempat tidur, lemari, pintu, jendela, kusen semuanya bisa dikerjakannya. Keterampilan ini didapatnya dari sang ayah. Terpaut  umur dua tahun, saya biasa menemaninya sambil membantu sebisa yang dapat dilakukan. Sambil bekerja di bengkel sederhana di belakang dapur,  kami biasa berbagi kisah.  Kisah tentang sekolah, kisah tentang teman-teman. Macam-macam.  Di keluarga dan di kampung, Budi selalu jadi  contoh yang  selalu disebut para orangtua untuk melukiskan watak dan karakter seorang anak yang baik, harapan orangtua.

  1. Pendidikan Seminari

Budi sangat cerdas.  Mulanya saya kurang tahu  tentang kecerdasannya karena kami beda sekolah. Budi di SMP Pankrasio Putra di San Dominggo, saya di SMP Pankrasio Putri (sekarang SMP Ratu Damai). Saya hanya mendengar cerita kalau Budi adalah siswa dengan nilai tertinggi di NTT saat tamat SMP tahun 1981.  Di SMP dia jadi utusan Flores Timur ke Kupang semasa Ben Mboi menjadi Gubernur NTT. Mereka  mengunjungi beberapa titik di daratan Timor menanam pohon mengejawantahkan program Ben Mboi Operasi Nusa Hijau.

Pos terkait