Tentu Budi punya motivasi sendiri ketika memutuskan masuk Seminari Hokeng tahun 1980. Spirit dari Pater Yan Bala mungkin ikut mendorongnya. Tetapi dorongan itu juga datang dari dalam keluarga sendiri ketika pada masa kecil kami menyaksikan ‘kebesaran’, ‘kemuliaan’ dan ‘keagungan’seorang uskup dalam diri bapa besar kami, Mgr. Dr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD, Uskup Denpasar setiap kali beliau pulang libur di Waibalun.
Sayang, Uskup Sani meninggal terlalu dini ketika umurnya baru 48 tahun. Sekadar diketahui, Uskup Sani ditahbiskan menjadi imam tahun 1950 di Seminari Tinggi Teteringen, Belanda. Dari Belanda beliau melanjutkan studi mengambil jurusan Hukum Gereja di Universitas Gregoriana, Roma. Tahun 1955, beliau kembali ke Ledalero dan menjadi dosen Indonesia pertama di Ledalero. Tahun 1961 ketika terjadi pemekaran wilayah Gerejani di Indonesia, beliau diangkat menjadi Uskup Denpasar pada umur 37 tahun. Uskup pertama dari Flores, kedua dari Nusa Tenggara dan keempat dari Indonesia ini tercatat sebagai uskup termuda di dunia saat mengikuti Konsili Vatikan II (1962-1965) di Roma.
Kebesaran, kemuliaan, keagungan yang terlihat dari Uskup Sani, jejak yang ditinggakan Pater Yan Bala Letor, juga Pater Anton Sigoama Letor (tahbisan imam tahun 1955) tempo dulu mempunyai andil besar dan menjadi motivasi awal bagi banyak anak Waibalun masuk seminari. Syukur, banyak yang jalan terus dan ditahbiskan menjadi imam. Tetapi yang mengambil jalan lain dan tidak menjadi imam tetap memperlihatkan spirit lewo (kampung) di berbagai medan bakti seperti dosen, guru, wartawan, penulis, politisi, dan lain-lain.







