Dari Sani ke Budi : Persembahan Keluarga Kleden

duo kleden
Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (kiri) dan Mgr. Dr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD (kanan)

Ketika Budi masuk Seminari Hokeng tahun 1981, Pastor Paroki Waibalun, Pater Franco Zocca, SVD mengirim surat ke Seminari Hokeng. Isinya tegas: jika tidak terima anak ini, tutup saja seminari!  Pater Franco tepat dengan rekomendasinya.  Ketika masuk Seminari Hokeng baru saya tahu  dengan baik, Budi memang sungguh cerdas.  Sudah  cerdas,  Budi juga santun. Semua syarat menjadi anak seminari ada dalam dirinya.   Guru-guru di Hokeng selalu menyebut namanya sebagai contoh siswa seminari yang diharapkan.   Kalau ada lomba pidato, lomba menulis,  atau cerdas cermat, maka siswa yang lain mesti mengecek dan mencari tahu apakah Budi juga ikut. Kalau dia ikut lomba, maka siswa lain mesti bertarung merebut juara dua dan seterusnya.  Posisi pertama, juara satu, sudah pasti miliknya.

Belakangan sekali, setelah lama melalui pergaulan dekat,  berbicara dan ngobrol dengannya, membaca luasnya referensi dan pengetahuannya, saya punya  keyakinan kalau Budi hanya butuh sekali mendengar dan atau membaca materi pelajaran. Apa yang dibaca dan didengarnya itu boleh jadi masuk, tertinggal dalam memorinya, dan dengan mudah ‘ditarik keluar’ jika dia  butuh.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!
  1. Imam Sederhana dan Rendah Hati

Budi sederhana dan rendah hati.  Hidupnya sederhana nian. Amat bersahaja. Apa adanya.  Pakaiannya itu-itu saja.  Tidak banyak.  Sepatunya? Yang murah meriah.  Sudah menjabat sebagai Superior General SVD di Roma pun penampilannya tidak berubah. Penampilan sederhana seperti ini sudah terlihat dari dulu. Kesederhanaan itu kuat dipengaruhi pola dan sikap hidup orangtua di Waibalun.  Ditambah dengan pengejawantahan kaul kemiskinan sebagai seorang biarawan, Budi memang tampil teramat sederhana.

Pos terkait