Dari Sani ke Budi : Persembahan Keluarga Kleden

duo kleden
Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (kiri) dan Mgr. Dr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD (kanan)

Keluarga, Pendidikan, Imam

  1. Keluarga

Nama lengkapnya Paulus Budi Kleden. Paulus nama baptis. Sedangkan Budi adalah nama kakeknya, ayah dari  Dorothea Sea Halan,  ibunda Budi. Di kalangan masyarakat Lamaholot,  penggunaan nama  orangtua seperti kakek, nenek, om, tanta atau seorang tokoh untuk anak yang baru lahir merupakan  suatu tradisi yang sudah jadi umum. Harapannya,  semoga semua hal baik dari sosok yang digunakan namanya hidup kembali dalam diri anak yang menggunakan namanya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Di tengah keluarga di Waibalun,  Budi punya  nama panggilan ‘Poce’.  ‘Poce’ itu nama prokem yang digunakan dalam ragam bahasa Nagi/Larantuka untuk memanggil mereka yang memiliki nama baptis Paulus. Sama halnya Yohanes dipanggil Nani atau Jewani.  Poce kemudian disingkat lagi menjadi  ‘Oce’ sebagai panggilan manis dalam rumah untuk Budi.

Bagaimana hubungannya dengan  (alm) Mgr. Dr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD, mantan Uskup Denpasar (1961-1972)?  Mgr. Sani, biasa dipanggil Uskup Sani, adalah sulung dari empat bersaudara di Waibalun. Anak kedua namanya Petrus Sina Kleden (ayahanda Budi bersama saudara-saudarinya), anak ketiga namanya Wilhelmus Lawe Kleden (ayah kami  saudara bersaudara). Si bungsu namanya Maria  Lepan Kleden. Empat saudara sekandung ini lahir, besar dan  hidup secara sederhana dari tangan pasangan Yosep Suban Kleden-Maria Kemohun Kean.

Ayahanda Budi, Petrus Sina Kleden, seorang tukang kayu  yang bekerja di perbengkelan misi Larantuka.  Era tahun 1950-an hingga 1990-an bekerja di misi itu terbilang lumayan baik. Pasangan Bapa Petrus dan Mama Dorothea mengatur dengan baik hingga semua anak bisa mengenyam pendidikan, bahkan sampai perguruan tinggi.

Pos terkait