Yang luar biasa, melalui rekayasa sosial para guru ini menikahi perempuan-perempuan yang disiapkan secara khusus di sekolah kepandaian/keterampilan putri. Demikianlah, perempuan istri guru itu dipanggil dengan Nyora Guru. Guru menjadi pilihan utama ketika Gereja Katolik Nusa Tenggara belum mendirikan seminari guna menyiapkan imam pribumi. Barulah ketika seminari didirikan, mulai muncul siswa seminari. Salah satu angkatan awal siswa seminari di Nusa Tenggara adalah Pater Yan Bala Letor, SVD dari Waibalun. Pater Yan Bala menjadi imam angkatan kedua tamatan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero yang ditabiskan menjadi imam tahun 1942.
Kehadiran Pater Yan Bala menjadi inspirasi tersendiri. Jejaknya kemudian diikuti banyak orang. Memompa spirit anak Waibalun mengikuti jejak Pater Yan Bala itu, Pater Anton Sigoama Letor, SVD, komponis lagu-lagu Gereja, menggubah sebuah lagu dalam bahasa Waibalun berjudul Tite Ana-ana Waibalun. Salah satu bait lagu itu sungguh menginspirasi. Bunyinya :
Bauk rua wi goe jadi a
Goe koi wati mo
Dore Tuan Yan Bala kolo berkat lewo
Jadi guru, ola ma, here nere, biku…
Goe koi wati mo
Ne pe’en we goe gete moe ata a lewu…
Oh Waibalun…
Oh Waibalun…
Goe hukut moe gelupa moe hala
Terjemahannya :
Akan jadi apa aku nanti
Belum jelas kuketahui
Duluan ikut jejak Pater Yan Bala berkat kampung
Jadi guru, petani, pengiris tuak, atau apa saja…
Belum kutahu
Jika seperti itu kutanya dari mana asalmu…
Oh Waibalun…
Oh Waibalun…
Kuingat selalu, tak terlupakan
Lagu ini sangat populer dan seakan jadi lagu wajib orang Waibalun. Lagu ini sering dinyanyikan sebagai penghantar tidur malam anak-anak Waibalun. Tetapi lebih jauh, dari lagu ini banyak anak seperti terhipnotis mengikuti jejak Pater Yan Bala di barisan rohaniwan.







