Dari Sani ke Budi : Persembahan Keluarga Kleden

duo kleden
Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (kiri) dan Mgr. Dr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD (kanan)

Yang luar biasa, melalui rekayasa sosial para guru ini menikahi perempuan-perempuan yang disiapkan secara khusus di sekolah kepandaian/keterampilan putri.   Demikianlah, perempuan istri guru itu dipanggil dengan Nyora Guru. Guru menjadi pilihan utama ketika  Gereja Katolik Nusa Tenggara belum mendirikan seminari guna menyiapkan imam pribumi.  Barulah ketika seminari didirikan,  mulai muncul siswa seminari.  Salah satu angkatan awal siswa seminari di Nusa Tenggara adalah Pater Yan Bala Letor, SVD dari Waibalun.  Pater Yan Bala menjadi imam angkatan kedua tamatan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero yang ditabiskan menjadi imam tahun 1942.

Kehadiran Pater  Yan Bala  menjadi inspirasi tersendiri.  Jejaknya kemudian diikuti banyak orang.  Memompa spirit anak Waibalun mengikuti jejak Pater Yan Bala itu, Pater   Anton Sigoama Letor, SVD, komponis lagu-lagu Gereja, menggubah sebuah lagu dalam bahasa Waibalun berjudul Tite Ana-ana Waibalun.  Salah satu bait lagu itu sungguh menginspirasi.  Bunyinya :

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Bauk rua wi goe jadi a

Goe koi wati mo

Dore Tuan Yan Bala kolo berkat lewo

Jadi guru, ola ma, here nere, biku…

Goe koi wati mo

Ne pe’en we goe gete moe ata a lewu…

Oh Waibalun…

Oh Waibalun…

Goe hukut moe gelupa moe hala

Terjemahannya :

Akan jadi apa aku nanti

Belum jelas kuketahui

Duluan ikut jejak Pater Yan Bala berkat kampung

Jadi guru, petani,  pengiris tuak, atau apa saja…

Belum kutahu

Jika seperti itu kutanya dari mana asalmu…

Oh Waibalun…

Oh Waibalun…

Kuingat selalu, tak terlupakan

Lagu ini sangat populer dan seakan jadi lagu wajib orang Waibalun. Lagu ini sering dinyanyikan sebagai penghantar tidur malam  anak-anak Waibalun. Tetapi lebih jauh, dari lagu ini banyak anak seperti terhipnotis mengikuti jejak Pater Yan Bala di barisan rohaniwan.

Pos terkait