Dari Sani ke Budi : Persembahan Keluarga Kleden

duo kleden
Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (kiri) dan Mgr. Dr. Paulus Antonius Sani Kleden, SVD (kanan)

Mestinya dengan lama hidup, belajar, bekerja di Austria, Jerman, Swiss,  Italia,  mengunjungi puluhan negara ketika menjabat sebagai anggota Dewan General dan kemudian menjadi Superior General SVD, penampilan Budi bisa lebih dendi.  Tetapi itu jauh dari karakter dan wataknya.  Kesederhanaan sudah kuat menjadi identitas yang mencirikan sosoknya.

Budi juga seorang yang sangat  rendah hati. Dia tidak sombong, juga  tidak angkuh.  Bawaannya bukan orang yang gemar  pujian, doyan dihormati.  Terhadap lawan bicaranya dia mendengar dengan penuh perhatian, meski isi pembicaraan sudah didengar dan dipahaminya.  Mendengar seperti sudah menjadi salah satu kebajikannya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Persembahan Keluarga

Di Waibalun, marga/suku Kleden tidak besar dibanding dengan suku/marga lain.  Kami marga Kleden kecil saja. Tetapi  persembahan Kleden dari Waibalun untuk orang banyak tidak kecil. Persembahan  marga Kleden untuk orang banyak terutama dengan menjadi rohaniwan,  guru,  dosen, wartawan/penulis, tukang, nelayan.  Rohaniwan cukup banyak dan berada di sejumlah tarekat hidup bakti:   uskup, imam, suster, frater, bruder. Jika ditambah dengan mereka yang lahir dari rahim perempuan Kleden, tentu jumlahnya makin banyak.

Dalam permenungan  muncul pertanyaan,  mengapa  banyak di antara kami marga Kleden ingin menyerahkan diri melayani Tuhan dengan menjadi rohaniwan? Faktor dominan apa   yang menjadi daya dorongnya?

Saya menduga salah satu faktor pendorongnya adalah  jejak awal  yang telah dirintis generasi awal orang Waibalun (juga Flores Timur/Lamoholot pada umumnya) tempo dulu.  Orang tua dua generasi di atas kami banyak yang menjadi guru. Guru masa itu tidak hanya menjadi pendidik, tetapi  sekaligus juga menjadi misionaris awam. Mereka menyebar ke  mana-mana, tembus keluar Flores Timur. Mereka mengenyam pendidikan Belanda, ditempah di sekolah-sekolah misi hingga menjadi guru dan misionaris awam handal  di berbagai daerah.

Pos terkait