Di Khalifa International Stadium, sejak pluit akhir berbunyi, harapan kemenangan itu akhirnya sungguh jadi milik Senegal. Luapan senyum dan tawa tak terbendung. Kemenangan telah diraih. Fase berikut telah menanti. Dan harapan mesti ‘ditata baru.’
Di sisi lain, bagi Ekuador, alam kelabu tak mampu disembunyikan. Hanya rasa sedih dan air mata pada sejumlah fans dan pemain. Sepertinya “tak ingin Piala Dunia Qatar 2022 usai di sini.” Namun, “berharap di suatu saat nanti, dapat bertemu lagi dengan Senegal.” Dalam duel yang menentukan seperti ini. Seperti yang ditunjukkan Ronaldo dkk di malam sebelumnya. Yang ‘membalas’ Uruguay, yang menghentikannya di Piala Dunia 2018 lalu.
Senyum dan tawa serta sedih dan air mata, itulah citra rasa kehidupan manusia. Dalam tataran sportif senyum dan tawa adalah muara dari perjuangan. Dia dikemas dalam prasasti prestasi. Ia membahasakan pertarungan dan pengorbanan. Ia selalu beraura positif.
Tetapi, bukankah dalam alam non sportif selalu terjadi hal di alur sebaliknya? Sukacita dan senyum diyakini sungguh bisa lahir dari kekerasan. Kepuasan didapat dari tekanan dan dari penindasan. Rasa menang dan unggul sambil bermodalkan kekuatan yang sungguh opresif. Ini yang selalu beraura monster. Negatif dan menakutkan!
“Bergembira dengan yang bergembira, dan menangislah dengan yang menangis” telah jadi sulit untuk dihayati. Sebab, yang semakin kasat di pancaidra, adalah bahwa “orang hanya ingin bergembira dengan melukai dan menyusahkan sesamanya.” Sejajar dengan “Kita sedih dan tak tenang saat orang lain bersukacita; tetapi sebaliknya kita senyum melebar ketika orang lain lagi susah.”







