Oleh Frano Kleden
Zaman dahulu komunikasi dilakukan sambil berhadapan secara langsung atau melalui media yang ada. Ini pun harus melalui berbagai tahap.
Misalkan surat. Dulu, setelah menulis surat, kita harus membungkusnya dalam amplop, menempelkan perangko, lalu pergi ke kantor pos untuk mengirimkannya.
Sekarang, hal ini tidak perlu lagi. Kita tinggal menekan tombol dan semua selesai. Kini apa saja bisa didigitalisasikan.
Semua aktivitas, percakapan, peristiwa, lagu bahkan isi tubuh manusia bisa direkam dan diuraikan dalam bentuk elektronik untuk disimpan atau dikirimkan ke mana saja dengan mudah dan cepat.
Inilah zaman teknologi digital, sebuah era teknologi yang sungguh menakjubkan sekaligus menyuramkan.
Pedang Bermata Dua
Almarhum Paus Yohanes Paulus II pernah menyampaikan ungkapan penuh nuansa optimistik: Duc in Altum (Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam).
Dengan amanat ini, beliau mendorong kita agar mau akrab dengan alat komunikasi modern. Kita diharapkan untuk memanfaatkan temuan-temuan baru dalam bidang teknologi, informasi dan komunikasi agar dapat memperoleh hasil baik.

Belum sempat kita mengunyah sepenuhnya anjuran Duc in Altum itu, kini kita sudah diperingatkan akan bahaya yang ditimbulkan dari sarana-sarana komunikasi.
Sebut saja internet, sebuah alat komunikasi yang tidak lagi asing dan jauh dari kebanyakan umat, produk yang sangat massal disembah-sembah.
Internet telah memberikan dampak yang sangat luas dan mendalam bagi seluruh masyarakat. Oleh karena internet sangat berpengaruh luas, maka kita perlu mengingat bahwa alat komunikasi ini dapat menjadi ‘tantangan’ serentak pula ‘peluang’ yang sebaiknya tidak melulu dikutuk.







