Menurutnya, kebahagiaan bukanlah sebuah deskripsi tentang perasaan, melainkan lebih berarti pada model kehidupan yang baik untuk dihidupi.
Berkenaan dengan internet dan berdasarkan karya ‘Etika Aristoteles’ di atas, saya merasa perlu menggarisbawahi ‘dua keutamaan’ tersebut.
Pertama, keutamaan intelektual. Etika memang bersifat universal terutama bila ia dipahami sebagai dasar pencarian hidup yang baik dan benar. Namun, dalam praktik dan operasionalnya, etika bisa menjadi sangat situasional.
Artinya, ia berbeda dan bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain. Apa yang dianggap tidak bermoral di sebuah negara konservatif di Timur Tengah mungkin dianggap ‘biasa dan normal’ oleh masyarakat negara-negara liberal, seperti Amerika Serikat.
Oleh sebab itu, adalah hal yang baik dan benar apabila kita berani menggunakan internet. Untuk keluar dari lingkaran sempit, kita sebaiknya didorong agar melihat dunia yang lebih luas, sebab akan menjadi lebih sempit dan tertutup bila kita tidak berani mencoba hal baru.
Untuk itu, kita harus terlebih dahulu melepaskan diri dari jerat perdebatan ‘apa yang boleh dan apa yang tidak boleh’. Komunikasi membuka peluang kita untuk ‘kreatif’.
Dengan demikian, kita akan kagum akan pengetahuan (intelektual) dan dunia serta hidup yang begitu kaya. Hanya ketika semua berdecak kagum, Duc in Altum yang pernah didengungkan Gereja terwujud.
Kedua, keutamaan moral. Perkembangan alat komunikasi (internet) semestinya menjadi tamu yang harus disambut baik dan harus siap dihadapi. Namun, kita harus sadar bahwa internet hanyalah ‘sarana’ bukan tujuan.







