Etika Aristoteles dalam Era Internet

frano Kleden1

Mau tidak mau zaman kita sudah berubah. Kemajuan dunia teknologi khususnya internet sungguh mencengangkan kita. Kehadirannya telah menyerbu banyak orang.

Internet bagaikan pedang bermata dua: memiliki dua efek sekaligus yakni efek positif dan negatif. Kedua sisi ini tidak dapat diabaikan.

Di satu sisi, internet dapat membantu meningkatkan kesejahteraan manusia dalam berbagai bidang. Orang yang menyukai dunia seni, jika diberi internet maka ia akan semakin kreatif. Begitupun orang yang suka belajar dan pandai, jika diberi internet maka ia akan semakin pandai.

Di sisi lain, dampaknya juga sangat dahsyat. Jika ada orang jahat yang ingin menghancurkan suatu daerah atau kawasan tertentu, dengan internet hal itu bisa terwujud.

Internet juga membuat orang pasif, konsumtif melahap apa saja yang disajikan, malas mengolah realita hidup yang lain, tidak bergairah lagi membaca serta enggan berkumpul untuk bertukar pikiran.

Etika Aristoteles dalam Era Internet

Manusia hanya disebut ‘bahagia’ jika ia menjalankan aktivitasnya dengan baik. Atau seperti dirumuskan oleh seorang filsuf Yunani kuno, Aristoteles, dalam karyanya tentang Etika, “supaya manusia bahagia, ia harus menjalankan aktivitasnya ‘menurut keutamaan’.”

Menurutnya, untuk mendapat kebahagiaan (eudaimonia), setiap manusia harus dapat menyeimbangkan rasio sendiri (keutamaan intelektual) dengan watak, perasaan-perasaan, nafsu-nafsu (keutamaan moral). Kebahagiaan tidak dapat disamakan dengan kesenangan (pleasure), sebab segala bentuk kesenangan belum tentu membawa manusia kepada kebahagiaan.

Pos terkait