Trauma sejarah sejak 1962 yang diabadikan dalam film ini tidak dihadirkan hanya sebagai ‘kenangan masa lalu’. Ia juga memberikan peringatan bahwa ‘luka struktural’ yang terus diperbarui melalui kebijakan represif. Maka, kata-kata Maurice Halbwachs kembali menggema. Bahwasanya, ketika suatu kelompok terus mengalami ketidakadilan, memori kolektif tentang penindasan akan menjadi ‘bahan bakar resistensi lintas generasi’.
“Pesta Babi” mengajak kita melampaui dikotomi ‘pro-pembangunan’ vs ‘anti-pembangunan’. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah pembangunan untuk siapa, oleh siapa, dan dengan mengorbankan apa?
Film ini menegaskan bahwa keadilan ekologis tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Ketika hutan Papua dihancurkan untuk ‘energi hijau’, kita justru menyaksikan paradoks modernitas yakni solusi iklim yang melahirkan ketidakadilan baru. Tugas kita yang menaruh perhatian pada kisah ini adalah membongkar ilusi netralitas kebijakan dan mengungkap relasi kuasa yang tersembunyi di balik wacana teknokratis.
Nasib Yasinta, Natalis, Vincent, Frankie, dan Willem bukan hanya cerita Papua. Ia adalah peringatan bagi kita semua tentang harga yang harus dibayar ketika ‘kemajuan’ kehilangan kompas kemanusiaan. Dan, ‘Pesta Babi’ bukan akhir dari diskusi. Ia adalah undangan untuk bertindak. Mengapa? Karena, memahami dunia adalah langkah pertama untuk mengubahnya.*
Penulis, dosen Stipar Ende







