Oleh Tony Kleden

Tanggal 20 Oktober 2021 Partai Golkar menjejak usia 57 tahun. Mencapai usia ini Partai Golkar mencatat rekor sebagai partai dengan usia paling panjang di Indonesia. Tetapi usia panjang itu tidak banyak maknanya kecuali dengan menunjukkan sumbangan nyata bagi keberlangsungan pembangunan dan terutama keberlanjutan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dan, jika kita membuka lembaran sejarah tercatat terang dan jelas, Golkar menjadi partai yang pasang badan melakukan apa saja untuk kepentingan bangsa besar ini. Kepentingan itu, dalam rumusan tegas dapat disebut sebagai kepentingan menjaga, merawat dan mempertahankan keutuhan negara besar ini.
Dengan semangat ini, Golkar ingin menanam kesadaran kepada warga bangsa ini bahwa NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika itu sudah final, sudah selesai. Empat pilar kebangsaan ini jangan pernah diobok-obok lagi dengan ideologi dan paham-paham lain.
Gilang gemilang kemenangan Golkar pada semua pemilihan umum di masa Orde Baru, karena itu, mestilah dipaham dan dibaca dalam konteks ini.
Ketika Orde Baru tumbang 21 Mei 1998 dan Indonesia memasuki era reformasi, ada dugaan, bahkan juga harapan agar Golkar ikut terkubur. Nyatanya tidak.

Dengan jahitan baru dan dihembus spirit perubahan, partai berlambang pohon beringin ini mendeformasi dan kemudian mereinkarnasi diri menjadi Golkar Baru. Golkar Baru kemudian tetap eksis dan tetap kuat mengakar. Buktinya, pada pemilu pertama era reformasi yakni 7 Juni 1999, Golkar hanya turun satu anak tangga menjadi pemenang kedua di bawah PDIP.
Kalah pada pemilu pertama era reformasi, Golkar bangkit dan berdiri tegak lagi pada pemilu 2004 sebagai pemenang pertama. Seterusnya pada pemilu 2009, 2014 dan 2019, Golkar secara nasional selalu meraih urutan kedua terutama dari perolehan kursinya, di bawah PDIP.
Apa artinya ini? Ini tidak lain berarti Golkar tetap berakar kuat di relung batin dan dasar nubari warga bangsa ini. Golkar tetap dicintai warga bangsa ini. Golkar tetap meraup kepercayaan publik.
Di NTT akar Golkar justru lebih kuat lagi. Partai ini selalu memegang palu Ketua DPRD NTT sejak pemilu 1971 hingga 2014. Tak tergantikan. Baru pada Pemilu 2019 Golkar kalah jumlah suara meski sama-sama meraih 10 kursi seperti PDIP. Palu ketua diambil alih PDIP.
Ini juga menggambarkan bahwa NTT sedari dulu menjadi lumbung Golkar. Warna kuning, warga kebesaran Golkar selalu menjadi warna dominan pada semua kontestasi politik di NTT.
Menampilkan warna milenial, Golkar NTT di bawah kepemimpinan Emanuel Melkiades Laka Lena sebagai ketua dan Dr. Inche D.P Sayuna SH, M.Hum, M.KN sebagai sekretaris terus mengibarkan panji. Beragam aksi digerakkan. Berbagai kegiatan direnda. Aksi-aksi ini sangat masif sejak tahun lalu ketika Covid-19 mulai mewabah dan menjadi pandemi.
Sebagai partai politik, Golkar memosisikan diri sebagai wadah atau tempat bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi, ingin terlibat menyalurkan ide dan gagasan bagaimana mengatasi Covid-19.
Merespon dan menangkap ide dan gagasan warga itu, Golkar NTT menggelar lomba menulis gagasan konkrit bertajuk “Sayembara Gagasan Konkrit Pencegahan dan Penanganan Covid-19” pada awal tahun 2021 lalu.
Ini ide gila. Di tengah kepanikan warga menghadapi Covid-19 yang tengah memuncak, Golkar menyelenggarakan lomba menulis. Banyak yang sinis. Merasa aneh. Tetapi panitia jalan terus. Rapat digelar secara virtual. Siang dan malam.
Alasan menggelar lomba menulis kuat. Di tengah psikologi massa yang panik dihantam Covid-19 Golkar harus tampil. Berdiri di garda depan. Mengajak masyarakat agar tidak boleh larut dalam bencana kemanusiaan itu. Peran sosial itu yang diambil Golkar.
Hasilnya mengagumkan. Cuma dalam seminggu lebih sebanyak 725 karya masuk ke panitia. Dari NTT hingga luar NTT. Tim juri yang menilai hasil karya ini bukan sembarang orang. Mereka punya nama beken. Ahli di bidangnya. Datang dari berbagai kalangan. Dari profesor hingga aktivis lapangan. Dari dosen ilmu politik hingga pendeta dan pastor. Dari jurnalis hingga polisi.
Belum lama mengumumkan hasil sayembara menulis gagasan konkrit, warga diajak berpartisipasi lagi dalam lomba video pendek “Rakyat Bicara Golkar Mendengar”.
Lomba ini lebih gila lagi. Lebih dari 6.000 video pendek masuk ke panitia. Dari NTT, luar NTT bahkan juga dari luar negeri.
Ketika Covid-19 belum kunjung reda, bencana alam melanda di awal April 2021. Di Kota Kupang dan sekitarnya badai seroja menghantam. Di Adonara, Flotim, Ile Ape, Lembata dan di Kabupaten Kupang banjir menerjang. Puluhan nyawa melayang. Di Kupang, wajah kota berubah jadi bopeng. Rumah-rumah hancur berantakan. Tersapu banjir. Pohon-pohon tumbang, rebah mencium bumi. Gedung-gedung perkantoran rubuh. Tiang listrik dan telepon patah dan jatuh. Kota Kupang lumpuh.







