Itulah sebabnya, sekali lagi, mengapakah Paulus merasa galau dan gerah di hati. Mari ikuti lagi kata-kata Paulus, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di anrara kamu….” (1Kor 1:10).
Kisah alarm Paulus seputar retak dan pecah dalam persekutuan, tentu ‘barang baru.’ Ada hal lain kisah injil tentang ‘baku ribut-ribut dan marah-marah’ di antara kedua belas murid. ‘Dong bertengkar karena incar posisi kiri dan kanan Yesus’ (cf Mrk 10: 35 – 45). Dan Yesus mesti menggurui semua bahwa yang terpenting dalam kemuridanNya adalah ‘hati dan sikap melayani.’
Kelompok para Rasul itu, seturut Yesus, janganlah picik ‘baku saing tak etis’ karena tersilau posisi. Merasa bersukacita dan terhormat telah ditetapkan Yesus jadi Rasul sudahlah lumayan! Apa yang mau dicari lagi selebihnya? Yang terutama adalah, seturut kata-kata Yesus, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10: 43-44).
Bagaimanapun, di sekeliling manusia selalu ada ranjau-ranjau roh jahat yang siap menyasar tepat. Yesus lulus dan lewati perangkap roh jahat setelah ‘ujian di padang gurun.’ Tetapi, apakah iblis senyap menghilang? Tidak! Seperti tercatat Lukas Penginjil, “Setelah iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari padaNya dan menunggu waktu yang tepat” (Lukas 4: 13).
Dan waktu yang tepat itu adalah jemaat – komunitas – keluarga (besar) – persekutuan apapun – institusi/hirarki Gereja yang jauh dari ‘sikap berjaga-jaga.’ Dan di saat yang tepat itulah iblis sepertinya dapatkan ruang gerak ‘pembenaran dan habitatnya.’ Iya, roh jahat itu sekian cerdik dan piawai untuk tampil sebagai ‘peirazon’ – penggoda, penguji, yang gemar mencobai. Ia juga hadir sebagai ‘diabolos’ – roh pemecah belah, getol bersaksi palsu dan manipulatif, dan akhirnya roh jahat pun hadir sebagai ‘satana’ – musuh, adversarius, yang lincah bikin pertentangan di sana sini.







