Konflik bukannya absen di Partai Golkar. Ini menarik. Sebab, setiap konflik muncul, selalu saja muncul gerakan tokoh Golkar yang bisa menjadi penengah bagi setiap elemen yang berbeda kepentingan (Hafid, 2018).
Membaca riak dinamika politik secara internal dalam tubuh Partai Golkar, sulit untuk tidak mengatakan bahwa ada satu nilai bersama yang dipegang dan dipraktikkan oleh setiap eleman partai. Itulah nasionalisme kebangsaan.
Nasionalisme Kebangsaan
Dalam On Nationality, Miller (1995) tegas menyatakan bahwa nasionalitas merupakan kekuatan yang mendominasi dalam politik kontemporer. Disebutkan, setiap elemen boleh saja menyebut nasionalis tetapi itu semua hadir karena ada nasionalisme kebangsaan yang telah dibangun bersama. Karena itu, setiap elemen yang memegang teguh nasionalisme kebangsaan akan dapat bertahan dalam proses perjalanan hidup individu dan sosialnya.
Atas alasan demikian, Dumbrava (2014) menyebutkan bahwa keterkaitan antara nasionalitas, kewargaan, dan rasa memiliki sebagai sebuah bangsa dapat menjadi pengikat atas semua bentuk perbedaan, termasuk perbedaan politik dan perbedaan lainnya. Dalam konteks kelembagaan, nasionalisme dan nasionalitas sebuah lembaga sangat ditentukan oleh bekerjanya elemen kewargaan dan besarnya rasa memiliki sebuah lembaga pada keutuhan bangsa.
Di titik itu, benar yang disampaikan Mandelbaum (2020) dalam The Nation/State Fantasy: A Psychoanalytical Genealogy Of Nationalism. Bahwa fantasi kebangsaan harus diubah menjadi sebuah imaji bersama dalam mengikat semua bentuk perbedaan. Di sana, perbedaan tidak selalu dilihat sebagai elemen perpecahan. Setiap perbedaan adalah kekuatan yang dapat dipakai untuk mengikat berbagai bentuk perbedaan lain. Dalam kerangka itu, menurut Mandelbaun, terjadi reproduksi imajinasi terkait kebangsaan. Karena itulah, mereka yang bisa mereproduksi kebangsaan dan mengubah fantasi kebangsaan menjadi imajinasi kebangsaan pasti mampu bertahan dalam semua bentuk persoalan hidup kebangsaan.







