Merujuk pada tiga kerangka teoritik di atas, mudah kiranya membaca alasan mengapa Partai Golkar selalu masuk di deretan lima besar pemenang pemilu atau pilkada. Sebab utamanya ternyata ialah kemauan elite partai ini mempertahankan imaji bersama terkait kebangsaan itu. Di sana, nasionalisme menjadi nilai yang tidak saja abstrak tetapi menjadi amat material.
Lalu, bagaimana dengan Golkar? Membaca rekam jejak Partai Golkar di ruang politik Indonesia, dinamika selalu muncul dalam tubuh partai ini. Dengan kata lain, Partai Golkar bukanlah entitas statis. Karena itu, beragam dinamika ada di sana. Dalam kata pengantar buku Jejak Karya Golkar NTT (Sarong, Eds. 2018), Ketua Golkar NTT, Melki Laka Lena menyampaikan tiga perkara besar yang masih ada dalam tubuh Partai Golkar saat ini.
Pertama, kelemahan ideologis. Yang dimaksud ialah kehampaan ideologi dalam diri setiap elemen partai. Elite Partai Golkar tidak mampu menopang kelemahan partai akibat cercahan banyak pihak atas realitas sosial dan politik Indonesia. Golkar akhirnya berjalan tanpa ideologi.
Kedua, pragmatisme politik di kalangan pengurus dan elite Partai Golkar. Oleh beberapa pihak, Partai Golkar dijadikan arena mencari uang dan bukan untuk membumikan ideologi serta visi partai. Banyak pihak dalam Partai Golkar menjadi tukang catut dan pialang politik. Uang merupakan jawaban final atas soal besar tersebut.
Ketiga, banyaknya kepentingan yang ada di dalam Partai Golkar. Semenjak Golkar berubah wujud menjadi partai politik, kepentingan pun muncul di mana-mana.







