Perayaan malam Kamis Putih, menunjukkan bahwa Yesus Kristus Tuhan kita memiliki sikap yang sangat rendah hati. Selama hidup-Nya, Dia sudah mengajar orang untuk merendahkan diri, dan pada malam perjamuan terakhir, Dia menunjukkan dengan perbuatan nyata apa artinya merendahkan diri.
Yesus merendahkan diri untuk membasuh kaki para murid yang kotor sebab bersentuhan langsung dengan tanah. Dengan kata lain, Yesus rela merendahkan diri serata tanah. Yesus memang selalu memilih tempat yang paling rendah. Karena untuk menyelamatkan umat manusia, Yesus memang mau mengambil tempat yang paling rendah.
Seandainya kita berada bersama dengan para rasul, mungkin kita juga mau memberi reaksi seperti Simon Petrus. ‘Tuhan, Engkau hendak mencuci kakiku?’, ‘Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya’, ‘Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku’(bdk. Yoh. 13:6.8.9); semua pertanyaan dan pernyataan Petrus di atas menunjukkan kepada kita bahwa lebih mudah memberi Yesus tempat terhormat, dari pada tempat yang paling rendah. Lebih mudah membiarkan Yesus duduk dari pada membiarkan-Nya menundak untuk mencuci kaki.
Dalam hidup ini, mungkin kita tidak suka membiarkan kaki kita dicuci. Karena dengan demikian, kita mengaku bahwa kaki kita kotor. Atau kita tidak mau orang lain membersihkan kesalahan kita, sebab menghadirkan malu. Kita harus mengakui bahwa kita juga punya salah dan membutuhkan pertolongan dari orang lain atau sesama kita.
Yesus turun ke tingkat paling bawah. Dia mengambil tempat paling akhir, paling belakang, paling tidak penting. Oleh tindakan-Nya ini, Yesus mau menunjukkan bahwa berada pada tingkat paling rendah, bukanlah sesuatu yang buruk atau sesuatu yang hina. Dan Yesus menanggung tempat yang paling rendah dan hina itu sampai wafat di salib. Tetapi justru dari tempat yang paling rendah, paling bawah, paling memalukan, menjadi satu kekuatan yang menyelamatkan, yang membebaskan, yang memerdekakan dan yang membawa kebangkitan baru atau kehidupan yang lain dari sebelumnya.







