Kamis Putih: Tempat Paling Bawah

JOHN NABEN1

Akar pohon itu berada di tempat paling bawah tetapi dia menghidupkan seluruh pohon. Kisah Injil tentang pembasuhan kaki, berakhir dengan Sabda Tuhan: ‘Berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya’ (lih. Yoh. 13:17). Sabda ini mau mengajarkan bahwa tempat yang paling bawah, paling tidak penting, paling rendah atau dengan kata lain, tindakan merendahkan diri itu bukan suatu hal yang buruk. Merendahkan diri berarti kita bersedia memikul kesalahan dan kelemahan orang lain. Untuk mendukung atau menopang sesama, kita harus berdiri di bawah.

Sikap berada di atas, sikap merasa diri lebih dari orang lain hanya akan menciptakan suasana yang tidak menyenangkan antara saudara yang satu dengan yang lain, yang mungkin juga makan semeja dengan kita. Sikap berada di atas, tidak akan meringankan beban hidup sesama, sebaliknya kita malah memberi beban yang baru.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Yesus yang adalah Tuhan dan Guru, pada perjamuan malam terakhir menunjukkan sikapnya sebagai pelayan, juga sebagai seorang hamba. Yesus yang adalah Tuhan dan Guru, menjalankan tugas itu dengan setia. Hamba yang merendahkan diri. Hamba yang melayani sampai tuntas, dan pelayanan-Nya tulus, putih; setulus dan seputih cinta-Nya. Putih dan tulus cinta-Nya itu hendak Ia wariskan kepada para murid-Nya dan sekalian kita yang adalah pengikut-pengikut-Nya.

Warisan ini bertujuan agar semua (anda dan saya) yang melayani, semua yang mau berkorban, kiranya meneladani Dia, dengan pelayanan yang tulus dan dengan cinta yang putih, cinta yang bersih, cinta yang tuntas, bukan cinta yang asal-asal dan setengah-setengah. Pembasuhan kaki merupakan lambang dan puncak pelayanan Yesus sampai mati di salib. Di sini para murid dan kita harus memahami, menerima, meneladani dan mengimani Dia. Supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat bagimu. Teladannya adalah melayani sampai tuntas, sampai mati.

Pos terkait