Kikis Mental Terabas, Lawan Korupsi dari Akarnya

Ilustrasi Korupsi 1

Menurut penulisnya, wujud yang diperlukan adalah  menghadirkan tiga komponen, yakni: pranata antikorupsi dalam lanskap sosial politik kekinian, serta  strategi pemberantasan korupsi yang berjangkauan luas dan terpadu. Dedi  Haryadi yakin melalui orkestra itu, indeks persepsi korupsi di Indonesia akan meningkat signifikan.  Faktanya, skor IPK Indonesia dalan lima tahun terakhir hanya naik delapan poin, dari 32 ke 40 (dalam skala 0 – 100). Bandingkan dengan Singapura yang berhasil masuk 10 besar negara terbersih di dunia.

Suka Menerabas

Sepakat dengan pandangan Dedi Haryadi. Namun sekadar urun rembug, agaknya layak mencermati dan mempertimbangkan pandangan bapak antropologi Indonesia, Koentjaraningrat (1923-1999).

Setidaknya ada dua anggapan yang menjelaskan mengapa korupsi berurat-akar di Indonesia. Pertama, bersumber dari sikap mental suka menerabas.  Kedua, pandangan cendekiawan negara lain (Jepang) yang menilai bangsa Indonesia umumnya bermoral rendah. Kedua pandangan itu bisa disimak dari uraian dan catatan Koentjaranigrat melalui buku tua karyanya, “Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan” (1974).

Peletak dasar 11 jurusan antropologi di berbagai universitas di Indonesia itu dalam uraiannya antara lain menyebut setidaknya ada  lima sikap mental  masyarakat Indonesia yang dinilai menghambat bahkan merugikan proses pembangunan. Satu di antaranya adalah sikap mental suka menerabas. Jika dinarasikan lebih longgar, sifat suka menerabas adalah sikap mental gemar  berbangga dengan capaian akhir yang gemilang dan cepat tanpa peduli atau mau berkeringat melalui proses upaya bermartabat. Atau dengan kata lain, adalah sikap mental gemar berpamer kekayaan – juga  gelar – tanpa peduli cara menggapainya.

Pos terkait