Oleh P. Kons Beo, SVD
“Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi demikian….” (Rasul Yakobus – Yak 3:9-10)
Teringat satu kisah
Teringat di suatu kesempatan perayaan ekaristi (misa) di satu kelompok umat. Seorang imam senior yang memimpin misa di kala itu. Saya sendiri mendampinginnya. Misa berjalan teduh. Homili sungguh memukau. Menarik dan animatif.
Selepas Doa Selesai Komuni, sebelum berkat penutup, sebagai ‘pastor tua’ di tempat itu, saya perkenalkan pastor senior itu pada umat kelompok. Maklum, ia adalah pastor tamu. Dengan segala gaya dan penuh kekuatan saya perkenalkan si pastor senior itu ‘sehabis-habisnya.’
Pastor senior tampak senyum-senyum. Sesekali terdengar tawaan kecilnya. Maklum, cara perkenalan saya itu sedikit ‘bergaya Ende-NTT’, yang sedikit-banyak ‘wora-wora’nya (artinya: omong tinggi, kembang sana-sini). Namun, sudahlah. Sekedar bikin suasana agak santai sedikit sebelum ‘selesai misa.’
Si pastor senior itu, ternyata, sebelum berkat penutup, masih juga sambung beberapa kalimat. Seperti tak cukup dengan perkenalan dari saya. Ada ucapan terima kasihnya karena bisa rayakan misa bersama umat. Namun, ia lanjutkan satu-dua kalimat berikutnya, yang tetap saya saya ingat:
“Pastor kalian ini hebat. Ia punya banyak bakat. Sebagai kakak dalam imamat, saya juga bangga akan adik saya ini. Tetapi, ada kesalahan dan dosa berat yang baru saja ia tunjukkan kepada kita semua: adik saya ini sebenarnya tadi tu tidak memperkenalkan tentang saya kepada kalian semua. Yang benar, ia sudah masuk dalam tindakan perdagangan manusia. Sebab ia sudah ‘jual saya sana-sini di hadapan kalian semua…’ Pastor kalian, adik saya ini, sebenarnya bagian aktif dari human trafficking.”
Dan suasana jelang akhir misa pun sedikit jadi riuh. Terasa ada candaan yang punya makna. Toh, saya pasti tetap ingat akan nasihat si Syrus. Katanya, “Tegurlah teman Anda saat berdua, tetapi pujilah dia di depan umum.” Pastor senior saya itu pasti tahu. Tak ada intensi untuk ‘jual murah namanya…’
Menatap keseharian
Tetapi, mari kita susuri keseharian kita. Tidakkah selalu nyata tindakan ‘jual nama orang’ dalam keseharian? Tentu, kita tak bermaksud untuk sekian jauh melebar dalam uraian tentang human trafficking (perdagangan manusia) dalam artian selengkap dan seluasnya.
Biarlah kita menatap penuh serius kisah-kisah ‘perdagangan manusia-sesama’ dalam hal-hal kecil. Namun hal itu sebenarnya tak sesederhana dampaknya. Kita sering terkagum pada semua idola dan pujaan hati kita. Namun, sebaliknya, sikap antipati kita tunjukan pada siapa saja ‘yang berbeda bendera.’
Kampanye, propaganda, iklan serta pelbagai konten publikasi mengenai seseorang (tokoh) kini ada di jalur ‘perdagangan’ nan sengit. Di rana politik, ini jadi bisnis yang melambung dan menggigit. Ada jualan nama yang melangit. Berharga mahal dan bernilai tinggi. Semuanya dalam jualan positif yang memang benilai selangit itu.
Di situlah, segala kecemerlangan dan tanda-tanda kehebatan dari si idola digaung-gemakan. Di dalam dan bersamanya pasti ada harapan. Terdapat jaminan untuk segala kemajuan dan perkembangan.
Kekurangan dan kehilangan momentum berpikir tenang
Tetapi, sebaliknya, lihatlah ‘program terukur’ pembusukan nama terhadap yang berseberangan. Iya, dari pribadi yang tak diidolakan. Di situ, kampanye hitam nampaknya sudah dibiasakan. Di zaman yang serba ramai dan serba mobil ini, massa memang tak punya waktu cukup untuk hening demi mempertimbangkan.
Himbauan saleh untuk bermeditasi berkontemplasi untuk satu proses menimbang dan memutuskan dianggap sebagai butir siraman rohani yang nir-nilai. Hampa maknanya.
Sebab orang sudah pada terjebak dalam perangkap bahwa ‘yang diidolakan itu mesti segera ditelan; dan yang tak berkenan di hati harus segera dimuntahkan.’
Konten-konten kita telah siapkan produk ‘dagang manusia (tokoh) dalam alarm halal dan haram’ atas dasar kepentingan tertentu. Publik tak perlu repot dan bersusah-susah lagi untuk mencermati dan merunutnya.
Human trafficking dalam rana politik
Tanah Air di jelang tahun politik sungguh penuh hingar bingar aksi ‘perdagangan manusia.’ Katakan yang didagangkan itu ialah tokoh, idola, sanjungan dan pilihan, atau sebaliknya yang memang tak ada di hati. Dan di sinilah publik pun memang dibawa kedua titik sikap dalam pilihan. Entah tebalkan rasa simpati atau sebaliknya antipati.
Bagaimana pun yang diharapkan adalah kualitas massa yang cerdas akan arus perkembangan sosial. Yang masih memperjuangkan nilai yang pantas bagi kehidupan yang lebih luas.
Mari telisik di rana keseharian. Tak ditampik kenyataan bahwa terdapat sekian banyak usaha untuk mempererat nilai kebersamaan. Untuk melihat sesama sebagai bagian dari perjuangan hidup bersama itu sendiri. Demi mengusung segala nilai yang merekatkan rasa persatuan.
Tetapi, tidak kah seruan sejuk dan aksi-aksi demi perdamaian banyak kali terpolusi oleh tindakan-tindakan makar yang sungguh mengaburkan?
Selalu tak sedap tentang ‘yang lain’
Kita tak pernah sepih dari kisah-kisah miris ketika satu doa atau perayaan keagamaan berubah jadi ajang tekanan yang cenderung liar. Atau saat segala ‘yang bukan kita dan berbeda dari kita’ dalam rana apa saja ditangkap sebagai sumber ketidaknyamanan.
Jalan yang termudah untuk layani ketidaknyaman hati adalah gencarkan praktek human trafficking. Sederhananya, terlalu mudah untuk dagangkan pribadi lain, untuk kampanyekan kelompok lain atau apa saja yang ‘bukan kita’ sebagai kafir, haram, bejat, tak senonoh, koruptif, dan semua yang dilabelkan sebagai ‘sumber gangguan.’
Kita tentu akrab dalam keseharian dengan ‘sibuknya lalu lintas jual sesama.’ Tema percakapan yang miris serentak murah meriah adalah jual nama orang lain. Entah itu teman di kantor, anggota kelompok, tetangga, atau bahkan anggota keluarga sendiri. Yang disebut pembunuhan karakter (character assassination) adalah modus murah yang tetap digemari.
Akibatnya?
Akibatnya, ribut-ribut jadi tak terelakan. Ada ‘baku ambil kata’ antar tetangga. Bahkan, tidak kah reaksi fisik sering juga terjadi? Sebab terasa nama baik tercemar. Ada juga ‘tidak baku omong atau tidak baku tegur’ bahkan dalam keluarga sendiri. Ini memang dampak buruk dari kecenderungan tindak jual nama atau pribadi sesama.
Tetapi, kenapa kah sekian mudah untuk satu dua tindak human trafficking dalam keseharian? Tentu ada kepentingan tertentu di baliknya. Memang ada yang sekedar ‘omong lepas. Asal bicara!’ Ada pula yang bermaksud rendahkan sesama agar nama dan dirinyalah yang dimuliakan.
Ada lagi yang sekian gesit dalam geliat mendagangkan kemiskinan, kekurangan, kelemahan, ketakhebatan sesama demi keuntungan dan kepentingan yang hendak diraup atau dipertahankan. Maka, kita sepantasnya tak melulu bicara tentang human trafficking dalam skala ‘massif prosedural bisnis.’ Lihatlah dan renungkanlah pula kisah ‘saling jual-menjual’ dalam keseharian.
Masih mungkin kah bicara teduh?
Apakah masih ada keberanian bicara saling bersua wajah? Mungkin kah masih ada kekuatan batin untuk saling bicara dari hati ke hati? Tetap adakah dialog untuk bicara tenang dan sejuk serta tetap saling menghargai? Masih membara kah api persaudaraan dan rasa kekeluargaan dalam correctio fraterna di dalam Kasih nan tulus?
Dan akhirnya…..
Rasul Yakobus dalam suratnya, ingatkan kita akan “dosa-dosa karena lidah..” Agar dijauhkan selalu dosa dan kecenderungan tak sehat untuk ‘menjual sesama dengan lidah kita yang tak sehat pula.’ Hanya dengan cara inilah apa pun tingkat persekutuan kita, tentu akan memperoleh marwah dan karakter yang tak mudah retak, apalagi harus sampai pecah-pecah. Tempias berserakan sana-sini.
Verbo Dei Amorem Spiranti
- Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma







